Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

Bima Suci: Guru yang Ternistakan

Suasana negeri Hastina mendadak gerah. Angin kemarau yang meluncur dari Gunung Argakelasa seperti memancarkan aura panas yang membadai dan mengancam. Pepohonan kering dan meranggas. Bumi Hastina seperti dihantam badai panas dan kekeringan yang panjang dan dahsyat. Istana Hastina yang biasanya sejuk dan nyaman pun tak sanggup membendung badai panas yang terus meluncur dari lereng sebuah gunung di perbatasan itu. Presiden Duryudana yang tengah sibuk memimpin sidang Kabinet Hastina berkali-kali mengelap jidatnya yang panas dan basah. Entah, sudah berapa helai selampai yang masuk ke keranjang sampah.

DuryudanaSengkuniAswatama“Pak Wapres, kemarau tahun ini rasanya kok beda dengan biasanya. Saya yakin ini pasti ada yang tidak beres!” sergah sang Presiden di tengah kecamuk suasana ruang kerjanya yang gerah.

“Walah, walah, bisa jadi benar, Bapak. Mungkin ada pihak yang dengan sengaja hendak mencelakai kita!” jawab Sengkuni, sang Wapres dengan mulut setengah menganga sembari cengengesan.

“Tapi maaf, Bapak Presiden. Menurut hasil penelitian dari staf kami, tingginya panas di Hastina ini akibat ulah para pengemplang hutan yang dengan sewenang-wenang mengeksploitasi hutan seenaknya, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan,” sahut Aswatama, Menteri Lingkungan Hidup, dengan wajah tertunduk.

“He, apa maksud Pak Menteri? ”

“Mmm ….. begini, Pak. Berdasarkan hasil penelitian para staf di kementerian, eksploitasi hutan di Hastina sudah berada di ambang batas kehancuran. Jika tidak segera dihentikan, bencana demi bencana akan terus terjadi. Panas dan kekeringan tahun ini menjadi salah satu dampaknya. Demikian, informasi yang saya terima. Berikut ini laporan lengkapnya!” jawab Aswatama sambiol menyerahkan segepok laporan.

Mata Presiden Duryudana membelalak. Dalam laporan itu, tertulis jelas nama-nama perusahaan yang dinilai sudah melakukan pelanggaran. Padahal, mereka yang berada di balik perusahaan itu adalah sebuah konglomerasi kelas kakap yang selama ini telah memberikan banyak kemudahan dan fasilitas kepada dirinya dan keluarganya. Wajah sang Presiden yang gerah itu mendadak memerah. Rahangnya yang kokoh makin mengeras.

“Saya tidak percaya! Laporan ini jelas mengada-ada. Saya justru curiga, jangan-jangan Pak Aswatama hanya ingin buat sensasi murahan. Mereka yang saya beri wewenang untuk mengelola hutan di Hastina adalah sosok yang benar-benar terpercaya. Pak Wapres, bagaimana pendapat Sampeyan!” Para anggota kabinet serentak membelalakkan bola mata. Mereka seperti tengah menyaksikan sang Presiden yang sedang berada dalam amarah yang memuncak. Mereka serentak menundukkan kepala sambil mencuri pandang dengan sesama koleganya.

“Wah, apa yang Bapak sampaikan itu benar adanya. Pak Aswatama pasti sudah keliru dalam menyampaikan laporan. Pantas saja, Pak Aswatama ini kan putra kesayangan Bapak Guru Durna yang bermuka dua. Lahirnya berpihak kepada Kurawa, tetapi hatinya sesungguhnya hanya untuk Pendawa!” sahut Sangkuni dengan sorot mata yang licik.

“Stop! Pak Wapres jangan bawa-bawa ayah saya dalam persoalan ini. Apa yang saya laporkan benar-benar berdasarkan falta yang sudah bertahun-tahun lamanya dikumpulkan dan diverifikasi!” sergah Aswatama dengan tatapan mata tajam ke wajah Sengkuni.

“Cukup! Apa pun isi laporan itu, saya tidak percaya! Sekarang bubar!” bentak sang Presiden.

Baru saja para menteri beranjak dari tempat duduk, mendadak seorang tentara dengan sikap tegap dan sempurna menghadap kepada Presiden Duryudana.

“Lapor! Di luar sana, para penduduk berbondong-bondong menuju lereng Gunung Argakelasa! Laporan selesai!”

Bola mata Duryudana kembali liar dan membelalak. Penguasa Hastina itu segera mengerlingkan bola matanya dan mengajak sang Wapres menuju ruang pribadinya. Tak tahu pasti, apa yang sedang mereka perbincangkan. Yang pasti, keesokan harinya, terjadi kegemparan di lereng Gunung Argakelasa.
***

Konon di salah satu lereng Gunung Argakelasa, berdiri sebuah sekolah darurat sebagai sekolah alternatif untuk memberikan bekal keilmuan kepada para generasi muda Hastina yang selama ini gagal tercerahkan ketika menuntut ilmu di bangku pendidikan formal. Institusi pendidikan tersebut didirikan oleh Bima Suci, seseorang yang mengaku telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup dari Sang Hyang Wenang. Visi pendidikan yang diluncurkan adalah melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, bermoral, bermartabat, berbudaya, religius, demokratis, dan berwawasan kebangsaan. Itulah pesan yang harus dijalankan oleh sang Bima Suci sebagai bagian dari darma dan laku hidupnya. Karena visinya yang dinilai tampil beda dan menjanjikan sebuah perubahan, banyak murid Hastina yang selama ini duduk di bangku pendidikan formal, berbondong-bondong pindah ke sekolah darurat. Bahkan, banyak penduduk dari negeri lain yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tak pernah mengenal ujian nasional itu. Setiap murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan potensinya. Guru hanya sekadar jadi fasilitator dan mediator yang ramah kepada siswa didik.

Situasi pendidikan alternatif yang dianggap “memberontak” seperti itu jelas membuat penguasa Hastina gerah. Sudah jadi rahasia umum bahwa pendidikan formal di negeri Hastina tak lebih dari sebuah lembaga yang sengaja didesain untuk melahirkan “generasi kacung” yang harus selalu tunduk pada kemauan dan selera sang penguasa. Para murid di-indoktrinasi untuk menjadi generasi anak mami, bukan generasi yang cerdas dan kritis. Tugas pelajar adalah menjadi penghafal kelas wahid, untuk selanjutnya diuji secara massal dalam sebuah ujian nasional yang sarat dengan kecurangan dan manipulasi. Ironisnya, ujian yang salah urus seperti itu menjadi salah satu kebanggaan kemajuan Hastina melalui parameter kenaikan bobot kelulusan dari tahun ke tahun. Akibat atmosfer pendidikan yang amburadul seperti itu, masa depan generasi muda Hastina makin tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Hanya penguasa yang boleh pintar dan cerdik mengatur orang. Tak heran jika dari tahun ke tahun, keluaran pendidikan formal negeri Hastina hanya bisa menjadi kacung di negeri orang dengan nasib tak menentu. Merek sering disakiti dan dinistakan. Hastina tak ingin mengubah nasib para kacung itu, sebab takut kehilangan pundi-pundi devisa yang selama ini terus mengucur ke dalam kantong sang penguasa.
Karena tak ingin menjadi kerikil bagi penguasa Hastina dalam mengindoktrinasi dan “mencuci otak” generasi masa depan Hastina, maka dengan segenap kekuatan dan daya ikhtiar, Sengkuni segera memerintahkan tentara Hastina untuk menutup dengan paksa sekolah yang didirikan oleh Bima Suci itu. Terjadi perlawanan sengit. Ribuan murid yang mengatasnamakan dirinya “Laskar Lereng Argakelasa” menghadang tentara Hastina di bawah komando Sengkuni yang bersenjata lengkap. Para murid serentak membentuk barikade untuk mengamankan dan menyelamatkan sang Bima Suci, guru yang amat mereka cintai dan idolakan, dari kekerasan tentara Hastina. Namun, perlawanan “Laskar Lereng Argakelasa” sia-sia. Mereka gagal menghentikan amarah para tentara yang demikian buas dan liar memberondongkan timah panas ke barisan para laskar. Beberapa di antara mereka telah terkapar mencium tanah. Mereka pun tak sanggup berbuat apa-apa ketika para tentara Hastina menggelandang dan menyeret sang Bima dalam keadaan tangan terborgol.

Namun, nasib sang Bima terselamatkan oleh kehadiran pasukan Pendawa yang dipimpin sang veteran Semar yang sudah lama sekali tidak menampakkan batang hidungnya ke tengah publik. Dengan sisa-sisa kepiawaiannya dalam berdiplomasi, Semar menyatakan bahwa sesungguhnya sang Bima Suci adalah Bima, putra Pendawa, yang tengah menjalankan misi dan darma pengabdian hidup sesuai dengan amanah Sang Hyang Wenang dalam sebuah pengembaraan yang amat dramatis di tengah samudra. Namun, rupanya Sengkuni tetap bersikukuh untuk mengadili sang Bima Suci yang dianggap telah melakukan tindakan subversif dengan mencekoki doktrin-doktrin membahayakan kepada generasi muda Hastina.

Suasana percek-cokan antara Semar dan Sengkuni membuat pengawasan para prajurit Hastina terhadap Bima mengendur. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Bima berteriak garang hingga borgol yang membelenggunya terlepas. Lantas, dengan amarah yang memuncak, Bima mengamuk membabi buta. Para prajurit Hastina terkesiap. Mereka tak menduga kalau Bima bakal melakukan serangan balik yang begitu telak. Dengan pentungan di tangan, putra penengah Pendawa itu terus berteriak dan memutar pentungan laksana kitiran hingga membuat Sengkuni dan prajuritnya kalang kabut. *** (Tancep kayon)

Keresahan Deddy Mizwar Menatap Wajah Indonesia

ama Deddy Mizwar (Deddy) sudah bukan lagi sosok yang asing. Wajah dan gaya bertuturnya yang khas (hampir) setiap detik muncul di layar gelas melalui iklan produk tertentu yang dibintanginya. Dalam dunia sinematografi, Bang Deddy juga dikenal sebagai sosok yang kokoh dan konsisten dalam memperjuangkan idealismenya; berjuang melalui film untuk ikut berkiprah membangun peradaban yang lebih sensitif terhadap nilai-nilai humaniora. Tak heran kalau dia cukup disegani banyak orang. Empat piala Citra (film) dan dua piala Vidya (sinetron) makin membuktikan siapa sesungguhnya sineas kelahiran asli Betawi ini.

Tak heran pula ketika MGMP Bahasa Indonesia SMP bekerja sama dengan Mitra Edukatifa Semarang menggelar seminar nasional, kehadiran Bang Deddy amat ditunggu-tunggu para peserta. Alhamdulillah, akhirnya Bang Deddy benar-benar hadir di tengah peserta seminar yang sebagian besar berasal dari kalangan pendidik ini. Sekitar 120-an peserta yang mengikuti seminar di GOR SBR Purin Kendal pada Selasa, 30 November 2010, bagaikan menemukan kerinduannya terhadap sosok yang sudah amat familiar secara imajiner itu.

Seminar nasional yang digelar memang dimaksudkan untuk melihat dinamika dunia pendidikan dari sisi yang lain. Fungsi kultural sebuah sekolah bukanlah semata-mata mencekoki peserta didik dengan setumpuk ilmu pengetahuan yang menyampah di balik tempurung kepala, melainkan yang lebih utama, bagaimana membekali peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup di tengah peradaban yang kian rumit dan kompleks.

Gambaran fungsi kultural dan spiritual tergambar jelas dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI yang diputar sekitar dua jam (pukul 13.45-15.45 WIB) sebelum seminar dimulai. Film yang secara satire membidik kehidupan kaum marginal ini berhasil memukau para peserta. Sekawanan pencopet yang tak terurus oleh negara, sehingga kian larut dalam naluri agresivitas dan anomali sosial, merupakan potret realitas sosial yang tak terbantahkan. Amanat UUD 1945 bahwa anak-anak miskin dan telantar dipelihara oleh negara, barulah slogan kosong; sekadar melengkapi klausul sebuah UU. Selebihnya, kota-kota besar negeri ini (nyaris) bisa dipastikan menjadi “syurga” bagi kaum marginal dalam menuntaskan naluri kemiskinan dan kekerasannya.

Pemutaran film ALNI membuat animo peserta untuk bisa segera berdialog dengan Bang Deddy kian terpantik. Bersama Zairin Zain (sang produser) dengan dipandu Aslam Kussatyo (guru dan teaterawan), Bang Deddy benar-benar membuat seminar memiliki “roh”. Sesekali terdengar suara tawa pecah di sudut-sudut gedung yang biasa digunakan sebagai basis latihan badminton ketika Bang Deddy melontarkan joke-joke segar. Bukan Bang Deddy kalau tak bicara ceplas-ceplos dan kritis. Film, tegasnya, merupakan “sihir” yang mampu melakukan perubahan mind-set orang dalam memandang hidup dan kehidupan. Namun, anehnya kini gedung-gedung bioskup kian sulit ditemukan. Hampir setiap ruang publik sudah dijejali dengan slogan-slogan kaum kapitalis yang mewujud dalam bentuk mall, pasar swalayan, atau kemegahan-kemegahan lain yang bisa memanjakan kaum pemilik modal. Kondisi seperti itu diperparah dengan menjamurnya sinetron “picisan” yang suka menjual mimpi, tangis, dan air mata. Sinetron tak lagi membumi, tetapi kian mengapung dalam dunia imajiner yang melambungkan mimpi-mimpi penonton. Imbasnya, bangsa kita makin kehilangan sikap sensitif, toleran terhadap sesama, dan gampang sekali terperangkap dalam bayangan-bayangan semu yang tidak mengakar ke bumi.

Dalam film ALNI, Bang Deddy seperti memancarkan keresahan ketika menatap wajah Indonesia yang karut-marut. Anak-anak yatim, miskin, dan telantar seringkali tak terurus. Sementara, perilaku-perilaku korup dan sarat anomali kian membadai. Pada sisi yang lain, dunia pendidikan yang seharusnya mampu menjalankan kiprahnya sebagai agen peradaban seringkali tak berdaya akibat sentuhan kebijakan yang kurang mengakar pada nilai-nilai kepekaan, kearifan, dan keluhuran budi.

Meski demikian, Bang Deddy tak patah arang. Kecintaannya pada dunia seni peran dan sinematografi agaknya telah mengalahkan kemanjaannya bergelimang hidup di tengah kemewahan. Untuk membuat film bermutu yang mampu “menyihir” publik, berdasarkan pengakuannya, dia rela tekor. Secara finansial, dia tak banyak mendapatkan keuntungan. Namun, dari sisi kultural dan spiritual, Bang Deddy mengaku mendapatkan sesuatu yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, langkahnya tak akan pernah surut untuk membuat film-film bermutu, berkelas, dan mencerahkan di tengah tingkat apresiasi publik terhadap film yang dinilai masih amat rendah.

Sayangnya, kerinduan peserta terhadap sosok sineas itu harus berakhir. Malam harinya, mulai pukul 19.00, dia bersama Zairin Zain mesti mengisi acara yang sama di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Maka, seminar pun terpaksa diakhiri pada pukul 17.15 WIB. Baiklah, Bang Deddy, kami tunggu karya-karya kreatifmu berikutnya. Meski secara langsung tidak sanggup melakukan sebuah perubahan, film tak akan pernah kehilangan perannya sebagai produk budaya yang layak diabadikan sebagai kekayaan kultural bangsa. ***

Antara Ronggeng Dukuh Paruk dan Tayub Grobogan

Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) merupakan salah satu novel trilogi karya Ahmad Tohari, selain Jentera Bianglala dan Lintang Kemukus Dini Hari. Banyak pengamat bilang, RDP merupakan satu di antara sekian novel Indonesia mutakhir yang sangat kuat warna lokalnya. Ia menampilkan sisi-sisi kearifan lokal masyarakat desa yang masih sangat kental persentuhannya dengan alam. Gaya naratif Kang Tohari, demikian novelis yang tetap betah dan nyaman tinggal di kampung kelahirannya, desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah itu biasa disapa, agaknya sangat tepat mendeskripsikan keakraban masyarakat dukuh Paruk terhadap berbagai fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya. Sangat beralasan apabila novel yang “eksotis” ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

RDPRDP tak bisa dilepaskan dari peran seorang Srintil yang dinilai mampu menggeliatkan semangat dukuh Paruk yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja. Pamornya makin cemerlang setelah ia dinobatkan menjadi seorang ronggeng. Konon, tanpa Srintil, dukuh Paruk akan merasa kehilangan jatidiri. Srintil mendadak menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua penduduk dari berbagai lapisan usia merasa memiliki ronggeng itu.

Namun, malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh Paruk hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh para penguasa di penjara itu. Akan tetapi, pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Oleh karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Rasus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun.

Salah satu bagian yang menarik dalam RDP adalah deskripsi tentang prosesi “sakral” penahbisan Srintil sebagai ronggeng. Konon, untuk menjadi seorang ronggeng, Srintil harus melewati proses penobatan yang terkesan sakral dan mistis. Selain harus melakukan pemandian di pekuburan Ki Secamenggala, sesepuh yang dianggap sebagai “cikal bakal” dukuh Paruk, dia harus menjalani upacara bukak klambu; sebuah ritual sayembara “penyerahan” keperawanan kepada seorang lelaki. Berikut ini kutipannya.

Aku mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng. Ternyata aku salah. Orang-orang Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran.

Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu.

“Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung!” pikirku.

Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Tetapi mendengar keperawanannya disayembarakan, hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak-klambu yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.

Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan keperawanannya. Untuk itu Kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelambu. Dalam tempat tidur ini kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang memenangkan sayembara.

Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat persiapan pelaksanaan malam bukak-klambu itu. Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang.

Ya, ya, sebuah ritual yang unik. Konon, ritual semacam itu dulu benar-benar sebuah peristiwa riil. Namun, lantaran dianggap kurang manusiawi, upacara penahbisan ronggeng melalui prosesi semacam itu akhirnya dilarang. Tiba-tiba saja, saya ingat seni pertunjukan rakyat yang ada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yakni tayub yang melibatkan ledhek sebagai “pemeran utama”, yang hingga kini masih eksis. Tayub Grobogan bisa dengan mudah disaksikan ketika ada warga yang punya hajat, entah itu khitan, nikah, selapanan bayi, atau hajat nazar yang lain.

Berbeda dengan ronggeng banyumasan sebagaimana yang tergambar dalam RDP, ledhek di Grobogan diterjuni oleh para pelakunya tanpa harus melalui ritual khusus yang bersifat mistis. Seperti layaknya profesi hiburan yang lain, ledhek diterjuni secara wajar-wajar saja oleh para pelakunya. Asal ada niat dan sanggup, meluncurlah mereka ke tengah-tengah masyarakat sebagai ledhek.

ledhekLedhek, konon merupakan jarwa-dhosok dari “Elek ben angger gelem medhek-medhek” (biar jelek asal mau mendekat). Seperti kebanyakan ledhek di daerah Kabupaten Grobogan, modal kecantikan agaknya tak begitu penting, meski juga berpengaruh dalam hal pemasaran. Modalnya cukup dengan dandanan yang seronok dengan vokal yang lancar selama semalam suntuk ditambah dengan keberanian mendekati kaum lelaki.

ledhekSebagai seni pertunjukan rakyat yang bercorak agraris, konon, dulu seni tayub hanyalah sebuah tontonan perlengkapan seremoni nazar bagi warga desa yang kebetulan punya uni alias nazar. Masyarakat Grobogan meyakini adanya mitos, jika pernah punya nazar, tetapi tidak segera dilaksanakan setelah niatnya tercapai, maka yang bersangkutan akan dirundung malapetaka. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit parah, bahkan sampai meninggal dunia atau dapat pula berubah musibah fatal yang lain. Sebagai medium pengabulan nazar, diundanglah ledhek untuk menolak musibah yang bakal datang. Selain itu, juga sebagai pengucapan rasa syukur kepada Hyang Widhi atas niat dan maksudnya yang telah terkabul. Lama pertunjukan cukup singkat sekitar 1-2 jam. Konon, mantra-mantra yang diucapkan sang ledhek itulah yang sanggup meredam segala musibah.

Dengan iringan gamelan yang mengalun, sang ledhek mulai mengucapkan matra dalam bentuk tembang. Ada suasana sakral di sana. Di tengah asap dupa yang membubung dengan segenap uba rapenya semacam ayam panggang, keris, onggokan pisang, ketupat, dan beras putih, sang ledhek tak henti-hentinya mengucapkan mantra sambil menyebar beras putih ke segala penjuru sebagai tulak balak: “…ana sengkala saka kulon tinulak bali mangulon. Sing nulak balak Raja Iman Slamet …” (ada musibah dari barat ditolak kembali ke barat. Yang menolak Raja Iman Selamat) ….” Byur! Beras putih disebar ke arah barat. Demikian seterusnya higga tujuh kali sesuai dengan arah yang disebutkan. Setelah sang ledhek selesai mengucapkan mantra dalam bentuk tembang, tamatlah pertunjukan sebagai pertanda bahwa nazar telah dilaksanakan. Mereka yakin, musibah tak mungkin muncul sekaligus sang empunya nazar terhindari dari segala petaka.

Namun, seirama dengan perkembangan seni hiburan di daerah pelosok pedesaan, seni tayub kini berubah fungsi, suasana, dan temponya. Dari fungsinya sebagai perlengkapan seremonial nazar, kini beralih fungsi sebagai hiburan semata. Suasana sakral pun sirna, berganti suasana ingar-bingar di tengah musik gamelan yang membubung ditingkah ketipak kendang yang keras membentak. Tempo pertunjukannya pun berlangsung semalam suntuk alias byar klekar seperti hiburan lain pada umumnya.

Seni pertunjukan rakyat berbau hiburan agaknya akan terus berkembang sesuai dengan dinamika masyarakatnya agar tetap bisa eksis di tengah gempuran budaya global. Meski secara ritual, antara RDP dan Tayub Grobogan mengalami prosesi yang berbeda, tetapi secara kultural, seni pertunjukan rakyat ini memiliki fungsi yang (nyaris) sama, yakni sebagai klangenan (hiburan) masyarakat agraris di tengah-tengah rutinitas keseharian. Mungkin ada benarnya kalau ada orang yang bilang bahwa pada dasarnya setiap masyarakat memiliki naluri untuk menemukan katharsis dan pencerahan jiwa melalui seni pertunjukan yang dianggap mampu memenuhi hasrat emosi dan spiritualnya. Begitukah? ***