Senin, 04 April 2011

Cara Cepat Meningkatkan Page Rank Dan Traffic Blog


Page rank dan traffic blog, merupakan dua hal yang menjadi incaran para blogger. Khususnya blogger baru seperti intuisiblog(dot)com. Berbagai cara cepat dan instan untuk meningkatkan page rank dan traffic blog selalu cara yang paling di cari-cari. Sekali lagi, saya akan berbagi pengalaman kepada anda mengenai cara cepat meningkatkan page rank dan traffic blog hanya dalam satu cara. Seperti pada posting saya mengenai cara cepat meningkatkan traffic pembaca dan 4 pilar meningkatkan page rank, ternyata menjadi salah satu dari 10 posting terpopuler artikel intuisiblog(dot)com.

Cara cepat meningkatkan page rank dan traffic blog, hanya diperuntukkan bagi anda yang menginginkan page rank dan traffik blog secara instan. Cara cepat meningkatkan page rank dan traffic blog adalah dengan cara penyebaran link menggunakan sistem Multi Level Marketing? Untuk tips kali ini saya mau mencoba mengajak anda semua untuk memanfaatkan kedahsyatan faktor kali dan kecepatan penyebaran ini dalam bentuk backlink.

Cara Cepat Meningkatkan Page Rank Dan Traffic Blog ternyata cukup mudah. Yang perlu anda lakukan adalah meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel atau silahkan langsung COPAS (copy Paste) artikel ini.

1. soebakree corner

2. perpustakaan bersama

3. Intuisiblog

4. SEOjaguars

5. Iklan baris

6. Ki Dukun

7. Blogobusiness

8. Rosandika

9. Brojomusti

10.Zona Tutorial Blog

11.Zona Review Blog

12.Zona Tutorial Bisnis

13.Ilmu

14.Sang Pengawas

15.Gendhogo Al-Ikhlas

16.Gema Hati

17.Blogger Indonesia

18.SEO macan

19.Pakde SEO

20.Intuisi

21.Optimalkan Indera Keenam

22.Seputar bisnis Online

23.Business 4 U

Cara Kerja, pertama-tama anda meletakkan link blog anda beserta anchor text seperti susunan diatas, kemudian anda hapus nomer urut ke 23 dari daftar, sehingga semua peserta naik 1 level.Yang semula berada di nomor 1 jadi nomor 2, nomor 2 jadi 3, dst. Kemudian masukkan link blog anda di posisi nomer satu (1) atau paling atas sendiri.

Jika tiap peserta mampu mengajak 5 orang saja, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah

Ketika posisi blog anda 1, jumlah backlink = 1
Posisi 2, jml backlink = 5
Posisi 3, jml backlink = 25
Posisi 4, jml backlink = 125
Posisi 5, jml backlink = 625
Posisi 6, jml backlink = 3,125
Posisi 7, jml backlink = 15,625
Posisi 8, jml backlink = 78,125
Posisi 9, jml backlink = 390,625
Posisi 10, jml backlink = 1,953,125
dst.

Jika anda memasang sampai posisi 10 saja, dan semuanya menggunakan kata kunci (anchor text) yang anda inginkan. Dari sisi SEO, anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline anda mengklik link itu, otomatis blog anda akan mendapat tambahan traffic.

Nah, silahkan copy paste artikel Cara Cepat Meningkatkan Page Rank Dan Traffic Blog, dan hilangkan peserta nomor 23 lalu tambahkan link blog/website anda di posisi 1. Ingat, anda harus mulai dari posisi 1 agar hasilnya maksimal.

Selamat mencoba Cara Cepat Meningkatkan Page Rank Dan Traffic Blog!

Minggu, 27 Maret 2011

How to Help Your Children With Their Homework?

Homework is a decisive supplement your child undertakes at school. As a parent, it can be very frustrating to get children to buckle down and do their homework. It's important that parents not only help children in completing homework, but also help to encourage and motivate them as well. A few tips will help your children have a structured environment to get homework done in timely and establishing a good homework routine every day.

a) Provide a quiet space
This place should be somewhere where they can concentrate, if it is helpful to them, you should get ready a radio with music to them. If your children love some sort of cartoons or graphic, you can decorate the wall with wallpaper or some decoration displaying in the place to attract them.

b) Do not do it for them
If you are an expert in an area that your children are studying, let them know that you are available for them to use as resource. Whatever you do, do not do your children's homework for them. Discuss your children's homework and ask if they understand the homework. If they are having difficulty in homework, you may want to sit with them and helping them understands how to complete the homework.

c) Encouragement
Give praise and encouragement to your children when they are doing homework in correct way. Ask your children to show you their homework after it is returned by the teacher, so you can find out if there are any areas where they are having trouble. If they have done a good work, praise them like "good job", "that's great", or "I knew you could do it".

d) Pampering
Make a healthy snack or tidbits to give to your children while he or she is doing their work. You also can prepare food that your children love, this gets their mind working and entices them to sit down and munch.

e) Provide learning materials
Children can benefit from having revision resources at home. Make a small basket that holds your children's needed tools for homework. Keep pencils, pens, erasers, crayon, colour pencils and glue in a basket. Your children can get easily distracted when they have to keep getting up to find necessary items.

As parents should remember that you and your children's teachers have the same goal with homework to help your children learn. Parents should be available to help your children when they need you. Homework can actually be a fun activity for you and your children to bond.
Author Resource:- Anna has been writing articles online for nearly 3 years now. You are invited to visit her new website iPodTouch to learn more about tips to prolong iPod battery life and perform iPod repair by your own.

How to Write a Resume Objective and Executive Summary?

For acquiring the job opportunity, it is important for you to write the resume that will display your skills and traits marvelously. To make your resume interesting and readable, you should give solid start to your resume. Resume objective is the initial section of resume and should be written clearly and attractively. Today, we see many applicants using the executive summary as replacement for the job objectives. Let us know more about the difference in resume objective and executive summary.

Resume Objective:
The resume objective is the initial section in the resume after the contact information of applicant. The job objective in resume explains about the personal goals of the candidate working in the particular position. The objective is self centric and revolves around the candidate. It does not give any information of the candidate’s past career details and strengths.
Resume objective assists the potential employer in knowing your future career goals. It tells the employer what you can provide to the company while working on the position and how the company can get benefited by recruiting you.
How to Write Resume Objective?
Before writing the resume remember that, your job objective should focus on what you can provide to the company rather than what you desire from the company. Be specific in defining your career goals. Your resume objective should not be more than 3 to 5 lines. Include the actions verbs that can highlight your skills. Objective should be made attractive to hold the attention of the employers.
The resume objective tells the employers only about the career goals of the employer but not about the skills and strengths. It tends to be career limiting and one-dimensional. The resume objectives taper down your opportunities if you are multi-skilled and qualified for more than one position. Due to all these demerits, many applicants are now using executive summary instead of job objectives in resume.
Executive Summary:
The executive summary talks about the results that you have achieved in past and the potential you possess. It also helps to establish your professional identity. The executive summary presents your skills, accomplishments and abilities to the recruiters before reading the resume. Executive summary tells how you the company can get benefited by your strengths and abilities. It is generally written to hold the interest of the employer in your resume so that he may read your resume completely to know more about you and call you for the personal interview.



Meningkatkan Traffic Blog 400%, setelah beberapa hari tidak posting karena ada project baru diluar nie .. :), pada artikel ini saya ingin memberikan tips bahwa Anda dapat Meningkatkan Traffic Blog 400%, Dengan Gratis Auto Blog commenter langkah tersebut mudah kita jalankan.

Menakjubkan posting ke semua blogger baru yang mereka dapat meningkatkan traffic blog mereka 400% dengan pengajuan otomatis. Ada beberapa cara untuk meningkatkan traffic blog anda salah satu cara untuk memberikan beberapa komentar cantik dan keren di blog lain. Ini akan memberi Anda kualitas backlink ke blog Anda.

Mengapa saya menulis posting ini, sekedar berbagi cara meningkatkan traffic pengunjung blog kita dengan bantuan tools Auto Blog Commenter yang sangat membantu untuk berkomentar ria ke blog lain.

Saya pikir ini sangat sulit untuk mengirim komentar pada ratusan blog tetapi mudah jika Anda menggunakan beberapa perangkat lunak untuk melakukan pekerjaan ini. Ada beberapa software yang merupakan alat yang sangat berguna untuk mengirim komentar pada blog lain dengan mudah.


Free Blog commenter adalah perangkat gratis untuk digunakan. Saya pribadi menggunakan alat ini untuk memberikan komentar pada blog lain. Hal ini memiliki berbagai fitur seperti komentar kata kunci search luv, atas komentar pencarian posting dan banyak lagi. Anda dapat menggunakannya untuk komentar gratis dan posting di bolgs lain satu per satu. Free Blog commenter menemukan relevan dofollow blog yang akan memungkinkan Anda untuk mengirim komentar dan link di blog lain. Jika tertarik silahkan dapat diunduh pada link dibawah ini GRATIS, untuk mendapatkan key nya harus dengan validasi email kita.

Download disini sini

Better Yourself With An Online Education

Nowadays, increasing numbers of people choose to complete their own degrees on the internet instead of admitting into traditional degree programs supplied on-campus. Yet why is it that students these days want to obtain or perhaps finish their degree on the net instead of going to a real school or college?

One of the major explanations why individuals today go for an online degree is the amount of savings that they will be able to have. If you examine the entire cost of obtaining an online degree side by side that of obtaining a traditional education, the real difference in terms of the tuition fee is concerned might reach at least half.

For example, if you should spend about 80,000 dollars just to be in a conventional college, you will see that you will simply require around 20,000 us dollars to complete an internet program. Nowadays that is a ton of money.

Another reason why online degrees are so popular these days is because of people’s frantic lifestyle. You will discover folks who already possess a bachelor’s degree but will still desire to proceed and acquire a master’s degree so that they can further their own occupation. However enrolling for masters would likely require time and effort and some of these folks can not afford to give up their day time jobs as they also have bills to pay for. As a result, acquiring degrees online – online distance education programs – will strike the balance between school and work.

Online degree courses will even clear away the stress of your back – it will let you study at your own pace and you may not have to comply with one particular schedule.

Many online degree courses give flexible schedules, making it possible for the individuals to remain working while they study. Although there will be live online forums as well as chats involving students and teachers every once in awhile that you must attend, it will only happen depending on your handiest moment.

Getting your education on the internet provides you numerous of possibilities. Whatever your interests are, you will for sure come across a minimum of one online course which will match you. Numerous diplomas are offered on the net – there is an online law education program, an internet psychology degree program, an online engineering degree, a web-based English degree, and also a criminal justice web based degree programs.

You can even receive an online degree in accounting, nursing, in physics, in nutrition, and even an MBA. Each one of these plus more, you can complete without needing to go to a regular university.

You will also be able to get a Bachelor’s Degree, a Master’s Degree, as well as a Doctorate Degree through internet classes. Depending on your current degree, you'll be able to advance your degree and open up new doors for more career opportunities.

When it comes to pursuing an online education, it's always wise to do your research beforehand. There are many choices in the fields of online bachelor degree. For more information about online education programs, read more of these articles.

Some sort of Question of Circumstance

Academic English constitutes one portion of the language capital of bilingual students. Everyday heritage language and academic heritage language, along with daily English, are also present in various degrees in the general repertoire that college students use to a quantity of degrees, depending around the sort of education they've obtained and the existence experiences they've had outside the context of American schools.

These languages and types of language, also known as registers, numerous various language usually employed in a particular kind of communicative setting, appreciate different status in society. The conventional types with the language usually are considered "better" or more befitting school use, though in linguistic terms they include the exact same basic top functions of language as types.

In English-speaking nations, English naturally enjoys a greater status than other languages. Therefore, in the English-speaking society, standard English, the social version of academic English, enjoys one of most likely the most prestige. With this prestige comes the perception that academic English belongs in the direction of the more privileged classes. Working-class college students from lower-socioeconomic backgrounds frequently think about academic English the language of "rich" individuals and thus do not appropriate it because of their social circles.

These variations are definitely not distinctive towards the Usa. These various forms or registers of language are present in all societies. They emerge as a way to define the identity of an group and distinguish insiders from outsiders, or they are the result of new understanding that requires expression particularly methods. Even though academic English has been described as decontextualized language, Mary Schleppegrell argues that it is use is extremely influenced by context.

For instance, talking in public to show authority inside topic and writing in a number of disciplines need different sorts of academic English. Academic English is really a component of the linguistic repertoire students have to perform in college when reporting understanding and producing and reading academic text. Not all college contexts require academic English, nevertheless; when students discuss material in groups or talk with their friends throughout lunch, is completely acceptable.

To learn much more about the different types of Physical Therapist Assistant, visit our website where you'll find this and much more, includingPhysical Therapist Assistant

Why Write Articles That Speak Your Mind

In the vast majority of cases when people write articles to publish online it is usually for promotional purposes pertaining to a particular niche. There are time however when the article writer has more of an interest in publishing content that reflects personal thoughts and not promotional messages. By going off track like this is there any benefit to be realize either by the article writer or the global audience that makes up the internet community? Absolutely!

Here are 5 ways loyal readers and even writers themselves can and will benefit even if the material published reflects personal and not niche interests!

Makes You Feel 'Legitimate'

By temporarily setting aside your marketing duties and expressing yourself on more 'personal' issues you are driven more by interests and passion. This can feel both exhilarating and liberating because you are releasing to the internet community more passionate inner feelings. You are not as much concerned about appealing to your readers but instead are simply more intent to express your thoughts without consequence. Publishing content with this 'frame of mind' can be very empowering!

Loyal Reader Reaction

People are people and even though your most loyal readers are attracted to the type of promotional content you create they likely still appreciate variety. As an article writer you are displaying different 'layers' of your writing abilities which in this case will likely be appealing to a whole different set of interests readers may hold.

Learning to Express Yourself

Expressing yourself is completely different from promoting goods and services. In this way you are learning how to 'articulate' what it is you think or feel in a way that readers can understand. Developing these skills will be useful when you are creating promotional material to publish online. Knowing how to 'tap' into the emotions of your readers and to express your own is the best way to improve your copy writing skills.

Broadens Your Exposure

As was 'hinted' at above when you do go 'off track' by not 'promoting' something but instead 'expressing' yourself you are targeting a completely different audience. What is written and the way it is presented will have a completely different appeal and for different readers. In this way you are broadening your exposure. Although your article is not as focus as you would want it to be for marketing purposes, what you do publish online will circulate into totally new areas on the internet.

Feeding the Internet Beast

The internet has an insatiable hunger for information of all types as does its global audience. Whatever is published, provided it contains useful information, interesting insight or is simply thought provoking will be appreciated by the internet beast. It now has something new and different to 'feed' to its demanding but loyal readers. In this way as an article writer, you are doing a service for the internet community at large!

Sabtu, 26 Maret 2011

SUPPORT AND ENCOURAGEMENT

If you’ve never needed encouragement in your life, you are probably not human. If you’ve never needed the support of friends or family, you probably live on a deserted island. If you’ve never experienced frustration or pain, you probably have never left your room or related with another human being.

I had a good head on my shoulders. I was going to be an engineer. My life was planned out. Then my life turned upside down. I left engineering. I didn’t know how I was going to earn money. My life quickly turned into years of frustration and discouragement. I didn’t know how I could ever get out of my situation. I went from engineer to pizza delivery. And I delivered pizza for thirty months while my friends were becoming lawyers, engineers and business owners.

It was during this time I began writing encouragement poems and love words to give myself an outlet of expression. I also knew at some point in the future that I would get out of where I was at. I knew the frustration wasn’t permanent, even though it felt like it was. I knew I wouldn’t be delivering pizza forever, even though I had no way out for more than two years.

The most important thing to remember when you feel discouraged is to get around people. Don’t close in. Reach out to family and friends. Let yourself be supported. When you can’t lift yourself up, let someone else do it. Find a community, a church, a Meetup group, anything. Stay in contact with people.

If you were like me and you sat at home for eight hours a day for two years straight and delivered pizza part time in the evening, then you would know what I’m talking about. Being alone for long periods of time doesn’t serve you or anyone else.

Above all, keep the hope. Keep stepping forward. Don’t stay stagnant or stationary. Build your momentum, even if you feel like you’re not moving. Rejuvenate often. Don’t wallow in your pity for long periods of time. Focus on breaking your downward spirals. Get therapy if you need it, from someone you trust. But above all, keep the hope. Even if you can’t believe things will be different, just keep the possibility open that things might be different if you keep going. And that’s really all you need.

Formula Kelulusan UN 2011: Kemajuan atau Kemunduran?

Setelah melalui perdebatan yang panjang tentang formula kelulusan ujian nasional 2011, akhirnya Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) mengeluarkan dua keputusan, yakni Permendiknas No. 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dan Permendiknas Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional. Kedua Permendiknas tersebut selanjutnya dijabarkan oleh BNSP melalui Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0148/SK-POS/BSNP/I/2011 tentang Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional.

Yang ingin mengunduh, silakan klik tautan berikut ini!

1. Permendiknas No 45 tahun 2010
2. Permendiknas No 46 Tahun 2010
3. Lampiran-Permendiknas-No-46-th-2010
4. Prosedur Operasi Standar UN Tahun Pelajaran 2010/2011
5. Prosedur Operasi Standar Pencetakan Bahan Ujian Nasional

Dalam penafsiran awam saya, point penting yang terkandung dalam Permendiknas tersebut adalah nilai kelulusan UN tidak semata-mata ditentukan berdasarkan hasil UN, tetapi juga mengakomodasi nilai sekolah yang diperoleh berdasarkan rata-rata nilai rapor dan nilai Ujian Sekolah (US). Dengan kata lain, kelulusan UN ditentukan berdasarkan perolehan Nilai Akhir (NA) yang merupakan gabungan antara nilai sekolah (pada mata pelajaran yang di-ujinasional-kan dengan bobot 40%) dan nilai UN (dengan bobot 60%). Nilai sekolah itu sendiri diperoleh dengan menggabungkan rata-rata nilai rapor (bobot 40%) dengan nilai ujian sekolah (bobot 60%). Setelah melalui penghitungan NA, peserta didik dinyatakan lulus UN apabila mencapai rata-rata NA sebesar 5,5 dan tidak boleh ada nilai di bawah 4,0. Ini artinya, mata pelajaran tertentu, misalnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA untuk jenjang pendidikan SMP, selain diujikan secara nasional juga diujikan melalui ujian sekolah oleh satuan pendidikan masing-masing.

Formula ini jelas sangat berbeda dengan kriteria kelulusan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan nilai UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan UN. Melalui Permendiknas tersebut, agaknya Mendiknas juga ingin menjawab keresahan beberapa kalangan ketika nasib kelulusan seorang peserta didik hanya ditentukan berdasarkan perolehan hasil UN yang hanya ditempuh dalam beberapa hari saja itu. Sedangkan, proses pendidikan yang dilaksanakan peserta didik selama mengikuti aktivitas pembelajaran di tingkat satuan pendidikan terabaikan sama sekali. Melalui formula semacam itu, sekolah-sekolah tertentu yang mematok nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan grade yang rendah yang kemudian tertuang di dalam nilai rapor, jelas sangat “rugi” karena mustahil menyulap nilai dalam dokumen rapor yang harus mengacu pada KKM yang telah ditentukan.

Celah yang masih memungkinkan untuk ditembus dalam upaya menggelembungkan nilai peserta didik adalah melalui nilai ujian sekolah. Sekolah-sekolah yang “nakal”, bisa jadi akan memanfaatkan celah ini untuk membantu siswa didiknya agar bisa lulus sesuai dengan formula yang telah ditentukan. Kalau dugaan saya ini benar, formula kelulusan UN 2011sebenarnya merupakan sebuah kemajuan atau kemunduran?

Pertanyaan semacam ini tampaknya memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Dari kacamata pendidikan holistik, terobosan yang dilakukan Mendiknas memang layak diapresiasi. Setidaknya, kompetensi peserta didik selama mengikuti proses pendidikan di tingkat satuan pendidikan bisa terpotret lebih utuh. Kelulusan siswa tidak hanya ditentukan berdasarkan perolehan nilai UN semata, tetapi juga mengakomodasi nilai yang diperoleh siswa didik selama mengikuti kegiatan pendidikan di sekolah. Namun, dari sisi kejujuran, formula baru yang ditetapkan Mendiknas, agaknya masih memungkinkan bagi sekolah-sekolah yang “nakal” untuk bermain curang dengan menggelembungkan nilai ujian sekolah agar mampu membantu peserta didik dalam mencapai derajat kelulusan.


(Bedah SKL UN Bahasa Indonesia SMP di Kab. Temanggung, Jawa Tengah, Selasa, 11 Januari 2011)

Yang juga layak diapresiasi dari keputusan Mendiknas adalah dihapuskannya UN ulangan. Disadari atau tidak, digelarnya UN ulangan bagi siswa yang dinyatakan tidak lulus telah melunturkan etos belajar anak-anak. Mereka tak mau repot-repot mempersiapkan diri secara matang ketika menghadapi UN. Seandainya tidak lulus pada UN Utama, toh masih ada UN ulangan. Yang menggelikan, nilai yang diperoleh para peserta UN Ulangan pada umumnya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai peserta UN Utama.

Negara kita memang sudah sarat pengalaman dalam menggelar ujian akhir. Namun, sejauh ini agaknya belum ditemukan formula yang tepat, sehingga gagal memotret kompetensi peserta didik secara utuh dan komprehensif. Kita sangat berharap, sistem dan formula UN tahun ini –meski masih terbuka celah untuk menggelembungkan nilai ujian sekolah—benar-benar bisa menjadi “starting point” bagi dunia pendidikan kita dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual. Semoga! ***

Tsunami Jepang dan “Tsunami” Indonesia

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter yang mengguncang pesisir Timur Laut Jepang di Kepulauan Honshu, Jumat, 11 maret 2011, telah memicu gelombang dahsyat tsunami setinggi empat hingga 10 meter. Korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami Jepang diperkirakan mencapai 10 ribu jiwa. Sedemikian dahsyatnya tsunami di negeri Matahari Terbit itu, sampai-sampai Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan pun menyatakan bahwa kejadian tersebut telah menimbulkan dampak yang lebih parah daripada kondisi Jepang setelah perang dunia kedua. Yang amat mencemaskan, menurut para pengamat, adalah kemungkinan terjadinya radiasi dan kontaminasi akibat kerusakan dua reaktor nuklir Jepang.

Tak seorang pun menghendaki tragedi itu terjadi. Alam yang tengah “bergolak” benar-benar di luar jangkauan akal manusia. Hanya Tuhan yang Mahatahu. Tragedi tsunami Jepang, dengan demikian, perlu dipahami sebagai sebagai tragedi universal, bukan saja lantaran memberikan dampak ikutan di berbagai bidang kehidupan dalam tatanan dunia yang kian mengglobal, melainkan juga secara kultural dan kemanusiaan, tsunami Jepang kemungkinan besar akan menimbulkan hancurnya peradaban yang amat penting peranannya dalam dinamika dunia keilmuan, bahkan juga menumbuhkan trauma dan luka sejarah yang berkepanjangan. Bangsa kita, meski secara historis pernah ternistakan dan terlukai, layak berduka seraya menundukkan kepala memohon kepada Tuhan agar gempa dan tsunami Jepang 2011 beserta dampak ikutannya bisa secepatnya berakhir dan teratasi.

Dalam konteks demikian, tak berlebihan kalau ada yang berpendapat bahwa Presiden SBY dianggap lebih penting memperhatikan dampak gempa dan tsunami Jepang terhadap Indonesia daripada dampak “tsunami” pemberitaan The Age dan Sidney Morning Herald yang dinilai telah melakukan “pembunuhan karakter”. Sebagaimana dilansir berbagai media, ketika gempa dan tsunami melanda Jepang, pada saat yang (nyaris) bersamaan, “gempa dan tsunami” juga terjadi di Indonesia. Media massa Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, dengan menggunakan data WikiLeaks, menuduh Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Dampak gempa dan tsunami Jepang dinilai akan lebih memberikan ancaman serius bagi kondisi perekonomian dan politik nasional daripada sekadar berita heboh dua media massa Australia tersebut. Ancaman nyata di depan mata adalah ancaman PHK terhadap karyawan perusahaan-perushaan nasional yang berorientasi ekpor terhadap Jepang. Selain itu, ancaman krisis energi juga bisa berujung kenaikan harga BBM di dalam negeri. Jika kedua hal itu terjadi, dampaknya lebih dasyat ketimbang berita fitnah yang dihembuskan The Age dan Sidney Morning Herald.

“Jika pemerintah hanya mempersoalkan pepesan kosong WikiLeaks saja dan hanya asyik dengan drama politik sabun reshuffle, maka kesempatan (business opportunity) yang harusnya bisa didapat dari gempa Tsunami Jepang akan jadi pepesan kosong saja,” ujar Ketua Presidium Nasional Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono, sebagaimana dikutip INILAH.COM, Minggu (13/3/2011). Peluang bisnis yang dimaksud menurut Arief adalah penjajakan dengan pemerintah Jepang agar perusahaan-perusahan kontruksi Indonesia bisa ikut tender untuk membangun kembali kota di Jepang yang hancur dilanda tsunami. Selain itu, pemerintah Indonesia bisa membuka pasar untuk perusahaan-perusahaan Indonesia yang memproduksi kebutuhan bahan untuk pembangunan kembali infrastruktur serta tempat tinggal di Jepang yang rusak akibat tsunami.

Ya, ya, mungkin ada benarnya juga kalau Presiden SBY tak terlalu terpengaruh oleh guncangan “tsunami” pemberitaan yang dianggap “hoax” tersebut, lebih-lebih kalau hanya berlandaskan sikap apologi berlebihan atau sekadar untuk pemulihan citra belaka. Publik dunia juga sudah bisa menilai akurasi pemberitaan tersebut. Benar-benar akan seperti memburu “pepesan kosong” dan buang energi sia-sia kalau berita “hoax” semacam itu dianggap sebagai ancaman serius.

Menunjukkan sikap empati terhadap para korban tragedi tsunami Jepang, mengevakuasi secepatnya WNI yang tinggal di wilayah rawan gempa, sambil menjajagi kemungkinan adanya peluang bisnis pasca-tsunami akan jauh lebih menguntungkan ketimbang berputar-putar cari alasan untuk merespon berita yang konon telah melanggar etika jurnalistik internasional itu. ***

Penyaluran Dana BOS: Antara Idealisme dan Mentalitas Korup

Dalam sebuah acara sosialisasi penyaluran dana BOS tahun 2011 di Jakarta, Mendiknas, Mohammad Nuh, menyatakan bahwa mulai tahun 2011 dana BOS mengalami perubahan dalam hal mekanisme penyaluran. Jika tahun-tahun sebelumnya penyaluran dana BOS dari pusat ke provinsi langsung dikirim ke sekolah, maka mulai 2011 berubah menjadi mekanisme transfer ke daerah (kabupaten/kota) dalam bentuk dana penyesuaian untuk BOS. “Oleh karena itu, mulai 2011, dana BOS akan tercantum dalam APBD Kabupaten/Kota dengan total dana yang dialokasikan sebesar Rp 16,266 trillun dengan perincian Rp 10,825 trillun untuk jenjang sekolah dasar dan Rp 5,441 trillun untuk jenjang sekolah menengah,” tegas Mendiknas. Adapun besaran dananya masing-masing Rp 400.000 per siswa per tahun untuk jenjang sekolah dasar di kota dan sebesar Rp 397.000 per siswa per tahun untuk di kabupaten. Sedang untuk jenjang sekolah menengah pertama sebesar Rp 575.000 per siswa per tahun di kota dan Rp 570.000 per siswa per tahun di kabupaten.

BOSWow…. benar-benar menggiurkan! Jika benar-benar tepat sasaran, alangkah majunya pendidikan di negeri ini. Tak ada lagi ceritanya anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalanan dan menggelandang. Namun, kenyataan ternyata berbicara lain. Dari tahun ke tahun, kita senantiasa menyaksikan pemandangan ironis sekaligus tragis. Di tengah gelontoran dana yang demikian menggiurkan, ternyata tidak sedikit anak-anak dari kalangan marginal yang terus terpenjara keterbelakangan dan kebodohan. Akibat himpitan ekonomi, mereka terpaksa harus terpanggang di bawah terik matahari untuk bisa membantu meringankan beban orang tua. Sekali lagi, kalau dana BOS tepat sasaran, anak-anak di negeri ini tak ada satu pun yang harus menjadi kaum “gepeng” (gelandangan dan pengemis).



Namun, lagi-lagi kita dibikin geleng-geleng kepala sambil mengelus dada. Dana yang dihimpun dari pajak rakyat itu, ternyata tak selamanya kembali ke rakyat. Sebagian dana bocor dan disunat untuk kepentingan oknum sana-sini.

Sebenarnya banyak kalangan yang mempertanyakan tentang kebijakan penyaluran dana BOS yang tidak disalurkan langsung ke rekening sekolah, tetapi harus mampir dulu ke Pemkab/Pemkot. Bukannya kita tidak percaya! Dari sekian kabupaten/kota yang ada, masih ada kok yang jujur dan terbuka dalam mengelola dana rakyat. Namun, yang tidak jujur, bisa jadi lebih besar jumlahnya. Kalau kita ikuti berbagai pemberitaan, tidak sedikit dana yang terparkir di rekening Pemkab/Pemkot, pada akhirnya menimbulkan masalah. Tunjangan untuk Guru Tidak Tetap (GTT), misalnya, seringkali tidak dibayarkan tepat waktu. Bahkan, ribuan GTT harus menagihnya lewat demo secara masif.

Jika kasus seperti itu berulang untuk penyaluran dana BOS, jelas makin merepotkan. Dana untuk kepentingan operasional sekolah yang seharusnya bisa secepatnya dibelanjakan untuk kepentingan sekolah, pada akhirnya harus menunggu dan menunggu! Dana BOS tidak bisa segera dicairkan dan pihak sekolah harus mengurusnya melewati prosedur birokrasi yang rumit. Kalau kekhawatiran ini benar, berapa juta anak negeri ini yang terpaksa tidak bisa terlayani oleh pihak sekolah dengan baik.

Mentalitas korup di negeri ini agaknya memang sudah bagian dari budaya. Kelatahan sikap “wong melik nggendhong lali” seringkali menjadi alasan pembenar untuk melakukan penyimpangan anggaran. Sungguh, lagi-lagi birokrasi yang konon sedang me-reformasi diri agaknya membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk memberikan layanan publik secara cepat dan memuaskan.

Idealisme Mendiknas memang baik. Dengan dicantumkannya dana BOS ke dalam APBD, segala macam bentuk kekurangan dana sekolah menjadi tanggungan sepenuhnya Pemda/Pemkot. Namun, bisa jadi realitasnya akan berbicara lain. Sejumlah dana BOS dari pusat bukannya dipercepat prosesnya untuk memenuhi kebutuhan sekolah, melainkan diparkir terlebih dahulu oleh pihak Pemkab/Pemkot untuk kepentingan sana-sini.

Semoga saja kekhawatiran semacam itu tidak terbukti. Kita sangat berharap, Pihak Pemda benar-benar amanah dalam mengelola dana BOS sehingga benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bahkan, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak Pemkab/Pemkot bahwa mereka layak dipercaya. Jangan sampai terjadi, Penyaluran Dana BOS: Antara Idealisme dan Mentalitas Korup menjadi nyanyian sumbang yang terus menggema di seantero negeri ini. Nah, bagaimana? ***

Formula Baru UN Hendaknya Jangan Memutar Lagu Lama

Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SMP/MTs, SMA/SMK/MA, menurut kabar yang beredar, baru akan digelar sekitar bulan April 2011. Namun, gaungnya sudah nyaring terdengar. Lebih-lebih setelah muncul wacana tentang formula UN yang konon akan berbeda dengan UN sebelumnya. Sebagaimana dilansir banyak media, Mendiknas, Mohamad Nuh, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, menyatakan bahwa UN 2010/2011 akan lebih menghargai proses belajar mengajar yang dilalui siswa. Kelulusan peserta didik tidak hanya ditentukan berdasarkan perolehan nilai UN yang hanya ditempuh dalam beberapa hari saja, tetapi juga diperhitungkan berdasarkan nilai yang diperoleh siswa selama duduk di bangku sekolah.


Menurut Mendiknas, formula baru yang akan dilaksanakan adalah menggabungkan nilai UN dengan nilai sekolah (NS). Nilai sekolah adalah gabungan nilai ujian sekolah ditambah nilai rapor semester 1 – 4. Selain itu, nilai gabungan antara nilai sekolah dengan UN ditetapkan minimal 5,5. Nilai sekolah dan UN mempunyai bobot masing-masing yang akan ditentukan oleh pemerintah. Bobotnya akan ditentukan, namun bobot nilai sekolah akan lebih kecil dari bobot UN. Dengan adanya formula baru ini, tegas Mendiknas, UN ulangan akan ditiadakan tahun depan, karena syarat atau formula yang ada saat ini lebih longgar yakni maksimum dua mata pelajaran dengan nilai 4, dan minimum 4 mata pelajaran dengan nilai minimum 4,25. Selanjutnya, nilai kelulusan siswa adalah kombinasi dari nilai gabungan dengan nilai ujian sekolah seluruh mata pelajaran.

Sebuah kebijakan yang layak diapresiasi. Meski demikian, jangan sampai formula baru ini hanya memutar lagu lama. Jika tidak salah, ketika UN dulu bernama Ebtanas, formula dengan menggunakan komponen nilai p, q, dan r yang menggabungkan antara nilai rapor (p), pra-Ebta (q), dan Ebtanas (r) sudah pernah diterapkan. Namun, yang terjadi adalah kekonyolan demi kekonyolan. Sekolah bisa dengan mudah melakukan manipulasi nilai dengan mendongkrak nilai rapor dan pra-Ebta luar biasa tinggi untuk menolong peserta didik agar bisa lulus. Jika ini yang terjadi, maka manfaat hasil UN, sebagaimana disampaikan Mendiknas, yakni sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik; pemetaan mutu program satuan pendidikan secara nasional; pintu masuk untuk pembinaan dan perbaikan mutu pendidikan, baik di tingkat satuan pendidikan maupun nasional; mendorong motivasi belajar siswa; dan mendorong peningkatan mutu proses belajar mengajar, tidak akan tercapai.

Sudah bukan rahasia lagi, bangsa kita sudah lama terperangkap ke dalam sikap pragmatis. Mental jalan pintas yang tidak menghargai proses dan etos kerja keras sudah lama membudaya di negeri ini. Dalam konteks demikian, diperlukan kriteria kelulusan yang bisa menghargai perbedaan potensi dan kompetensi antarpeserta didik, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Kriteria kelulusan sekolah di Papua, misalnya, jelas tidak bisa disamakan dengan sekolah di Jakarta karena mutu fasilitas, sarana, dan prasananya memiliki kesenjangan yang amat jauh. Sungguh tidak masuk akal apabila kriteria kelulusannya disamakan. Ini artinya, sekolah di Papua diberikan kebebasan untuk menentukan kriteria kelulusan tersendiri. Meski demikian, kriteria kelulusan secara nasional tetap ada standarnya. Misalnya, kriteria kelulusan secara nasional rata-rata nilai 5,5. Sekolah di Papua boleh menentukan kriteria di bawah angka itu.

Untuk memperbaiki mutu lulusan sekolah di Papua, pemerintah pusat perlu melakukan intervensi lanjutan. Perlu dicari sebab-sebabnya, mengapa sekolah di Papua tidak mampu menetapkan kriteria kelulusan yang sama dengan standar nasional. Sebab-musabab yang telah diinventarisasi perlu dicarikan solusinya, misalnya dengan memberikan subsidi block-grant, atau apa pun namanya, yang bisa digunakan untuk meningkatkan mutu lulusan. Demikian juga sekolah-sekolah yang ada di daerah lain. Sekolah yang memiliki status berbeda pun perlu diberikan kriteria kelulusan tersendiri. Antara sekolah terbuka, sekolah reguler, sekolah standar nasional, dan sekolah berstandar internasional perlu diberikan kriteria kelulusan tersendiri.

Kalau memang UN 2011 hendak menggunakan formula baru, maka perlu diperhitungkan dengan cermat imbas kecurangan yang bakal terjadi. Perlu ada rumusan yang jelas, sehingga tidak ada celah bagi sekolah untuk melakukan manipulasi nilai. Jangan sampai terjadi, formula baru nanti justru makin membudayakan kecurangan demi kecurangan yang selama ini terjadi, hingga akhirnya UN hanya menjadi ladang perburuan untuk meraih angka tinggi yang pada kenyataannya justru malah menghancurkan masa depan peserta didik lantaran telah diajari untuk berbohong dan berbuat tidak jujur. Nah, bagaimana? ***

Orkestrasi Pembelajaran melalui Quantum Teaching

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah buku keren dari Mas Muhammad Noer, sang penggagas dan praktisi kursus membaca cepat online. Judulnya Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. Memang bukan buku baru (cetakan pertama Mei 2000), tetapi buku terbitan Kaifa edisi II (Januari 2010) ini selalu menumbuhkan inspirasi baru untuk meng-orkestrasi pembelajaran di kelas. Meski sudah berkali-kali membaca, selalu saja ada yang masih luput dipraktikkan dalam pembelajaran di sekolah. Semakin sering dibaca, buku ini bagaikan kotak pandora yang menyajikan beragam misteri ketika dibuka. Terima kasih Mas Muhammad Noer. Buku inspiratif ini sangat bermanfaat buat saya dalam ikut berkiprah menciptakan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, sekaligus dirindukan oleh murid-murid saya.

Paulo Freire, sang kontroversial dari Brasil pernah melontarkan kritik tajam terhadap atmosfer dunia pendidikan “gaya bank” yang dianggap hanya melanggengkan kekuasaan kaum penindas terhadap sesamanya. Para siswa didik sengaja didesain untuk menjadi penurut dan anak mami. Naradidik hanya diperlakukan sebagai objek dan bukan subyek. Dalam proses belajar-mengajar, guru tidak memberikan pengertian kepada naradidik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Bak tong sampah ilmu pengetahuan, naradidik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan. Imbas dari atmosfer pembelajaran semacam itu adalah lahirnya keluaran pendidikan yang miskin kreasi dan daya cipta. Mereka hanya seperti robot yang selalu taat dan patuh pada komando “sang majikan”.

qtqtqtqtKritik tajam Paulo Freire agaknya mengilhami banyak pemerhati dunia pendidikan dari berbagai belahan untuk mengembalikan “fitrah” peserta didik sebagai subjek pendidikan yang mesti diperlakukan secara utuh dan manusiawi sebagai manusia pembelajar yang bebas dan merdeka. Konsep Quantum Teaching yang digagas oleh Dr. Georgi Lozanov, yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Bobbi DePorter, sejatinya juga merupakan upaya untuk membebaskan siswa didik dari belenggu proses pembelajaran yang menindas. Dengan mengadopsi beberapa teori, seperti sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik, Quantum Teaching berupaya menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.

Dengan menggunakan konsep “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”, Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa, tetapi siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik ketika belajar. Dengan Quantum Teaching, seorang guru secara inspiratif mampu memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan para naradidik sesuai dengan fungsinya masing-masing. Otak kiri menangani angka, susunan, logika, organisasi, dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, serta elemen-elemen lain yang bersifat matematis- ilmiah. Sedangkan, otak kanan lebih banyak berurusan dengan masalah pemikiran yang abstrak dan imajinatif, seperti warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yang memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta, dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis.

Untuk memberikan keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan peserta didik dibutuhkan proses pembelajaran yang menggairahkan dan menyenangkan hingga kelas bagaikan sebuah orkestra yang menyuguhkan perpaduan dan harmoni. Dalam implementasinya di kelas, Quantum Teaching menggunakan prinsip: (1) segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar; (2) segalanya bertujuan, siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan; (3) pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep; (4) akui setiap usaha, menghargai usaha siswa sekecil apa pun; (5) jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita, misalnya dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus, baik, dll.

Desain pembelajaran dalam Quantum Teaching lebih dikenal dengan akronim “TANDUR” …Desain pembelajaran dalam Quantum Teaching lebih dikenal dengan akronim “TANDUR”, yakni: (1) TUMBUHKAN: tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat BagiKU” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar; (2) ALAMI: ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar; (3) NAMAI: sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”; (4) DEMONSTRASIKAN: sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”; (5) ULANGI: tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”; dan (6) RAYAKAN: pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

Desain pembelajaran Quantum Teaching bisa terimplementasikan secara menarik dan menyenangkan apabila sejumlah syarat berikut ini terpenuhi, di antaranya: (1) guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum); (2) guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan: “learning is most effective when it’s fun”. “Kegembiraan” berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik; (3) lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan (pengaturan meja dan kursi diubah dengan berbagai bentuk, beri tanaman, hiasan lain di luar maupun di dalam kelas; pengecatan warna ruangan, meja, dan kursi yang yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas, ruangan kelas dihiasi dengan poster yang berisi slogan, kata mutiara pemacu semangat); (4) guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya. Guru dapat memengaruhi suasana emosi siswa dengan cara: kegiatan-kegiatan pelepas stres, seperti menyanyi bersama, mengadakan permainan, outbond, dan sebagainya, aktivitas-aktivitas yang menambah kekompakan, seperti melakukan tour, makan bersama, dan sebagainya, menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan, yaitu melalui bimbingan konseling, baik oleh petugas BP/BK maupun guru itu sendiri; (5) memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis musik lain untuk bersenang-senang dan jeda dalam pembelajaran; (6) sikap guru kepada peserta didik (pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan, perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat, selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik, memberikan stimulus yang mendorong peserta didik, mendukung peserta 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung, memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.

Tentu saja, masih banyak persoalan menarik dalam buku setebal 283 halaman yang mustahil terungkap pada tulisan ini. Yang pasti, untuk menjadi seorang Quantum Teacher, diperlukan perubahan mind-set dari model pembelajaran konvensional berbasis pendekatan behaviourisme ke model pembelajaran inovatif berbasis pendekatan konstruktivisme. Tanpa perubahan mind-set dan paradigma semacam itu, agaknya mustahil orkestrasi pembelajaran melalui Quantum Teaching bisa terwujud.

Yang tidak kalah penting, situasi lingkungan sekolah juga perlu mendorong dan memberikan ruang gerak yang leluasa kepada para guru untuk berinovasi dengan berbagai gaya dan model pembelajaran. Nah, salam peduli anak bangsa dan tetap semangat untuk menjadi guru yang inspiratif yang kehadirannya selalu dirindukan oleh siswa didiknya. ***

Workshop Penguatan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi

Senin-Rabu, 4-6 Oktober 2010, yang lalu, saya bersama 29 guru yang tergabung dalam Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Prov. Jawa Tengah, 8 Kepala TK Pembina, 11 Pengawas TK/SD, dan 11 Kepala SD RSBI se-Jawa Tengah mengikuti Workshop Penguatan TPK, khususnya berkaitan dengan implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (PBKB). Dalam workshop yang berlangsung di LPMP Jawa Tengah dan dibuka oleh Kepala Seksi SMP Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Prov. Jawa Tengah, Johny Lorang tersebut disajikan materi umum tentang kebijakan pemerintah di bidang Pendidikan Dasar, 6 materi pokok (kebijakan Pemerintah tentang pendidikan karakter, pembinaan nasionalisme dan karakter bangsa, belajar aktif, kewirausahaan, pengembangan KTSP, dan paparan rintisan implementasi PBKB jenjang TK, SD, SMP), dan materi penunjang tentang Rencana Kerja dan Tindak Lanjut Kegiatan.

Tujuan penyelengaraan workshop, antara lain (1) menyamakan persepsi penyelenggaraan PBKB serta pendidikan nasionalisme dan kebangsaan; (2) memberikan pemahaman dalam menerapkan pendekatan pembelajaran aktif yang menekankan pada pengembangan pendidikan karakter, kewirausahaan, serta ekonomi kreatif yang terintegrasi dalam KTSP; dan (3) memberikan pengetahuan tentang sekolah rintisan implementasi PBKB, sekolah piloting pembinaan nasionalisme melalui jalur pendidikan.


Narasumber utama dari Pusat Kurikulum (Puskur) Kemdiknas, Pak Zulkifri Anas, mengungkapkan bahwa karakter pada hakikatnya merupakan suatu sifat yang mewujud dalam bentuk daya dorong/daya juang dari dalam ke luar (inside out) yang dibangun/dibentuk melalui perpaduan dari nilai-nilai moral yang diinternalisasikan dari luar dan potensi dari dalam yang akan melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku dalam wujud kebajikan dan penampilan terpuji. Dalam perspektif demikian, pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.

Secara teknis, pendidikan budaya dan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif dibawah bimbingan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah, dan masyarakat. Dalam konteks demikian, karakter tidak cukup sekadar diajarkan, tetapi justru perlu ditularkan melalui keteladanan.



Persoalannya sekarang, di tengah kompleksitas persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan yang sudah kian mengarah pada situasi dan atmosfer peradaban yang sakit yang ditandai dengan maraknya perilaku kekerasan, anarki, vandalisme, korupsi, dan berbagai aksi anomali sosial yang lain, mampukah institusi pendidikan kita menjalankan fungsinya untuk mengimplementasikan pendidikan budaya dan karakter bangsa secara simultan dan berkelanjutan hingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan?

…. proses internalisasi pendidikan budaya dan karakter ke dalam institusi pendidikan di tengah rumit dan kompleksnya persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan justru perlu dimaknai sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan derajat dan kualitas hidup bangsa kita.Dengan nada optimis, Pak Zul, demikian kami menyapanya, mengungkapkan bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Artinya, setiap manusia memiliki “fitrah” potensial untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi. Semakin rumit dan kompleks persoalan yang dihadapi akan semakin teruji dan kian berkualitas pula kehidupan seseorang. Berkaitan dengan proses internalisasi pendidikan budaya dan karakter ke dalam institusi pendidikan di tengah rumit dan kompleksnya persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan justru perlu dimaknai sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan derajat dan kualitas hidup bangsa kita.

“Yang perlu terus didorong adalah membangkitkan kekuatan internal untuk memberikan tekanan yang lebih kuat sehingga kekuatan eksternal yang negatif bisa teratasi,” tegas alumnus Curtin University of Technology Perth, Australia (1997) itu. Ia mencontohkan, ketika seseorang sering menggunakan kata penghubung “tetapi” setiap kali menghadapi masalah, yang terjadi kemudian adalah sikap gampang menyerah dan mudah patah arang. “Gunakan kata walaupun, untuk memperkokoh kekuatan internal dari dalam diri kita,” lanjutnya.

“Kami ingin menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, tetapi kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela, sehingga kami tak mungkin sanggup untuk membangun karakter dan kepribadian siswa yang tangguh”.

Kami akan terus berusaha menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, walaupun kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela!

Contoh ungkapan semacam itu, dalam pandangan Pak Zul, akan makin mengendurkan semangat kita untuk membangun peradaban bangsa yang lebih bermartabat. Alangkah inspiratifnya jika ungkapan tersebut diubah menjadi: “Kami akan terus berusaha menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, walaupun kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela!” Ungkapan tersebut, menurutnya, akan mampu memberikan spirit bagi pendidik untuk membangun karakter generasi masa depan yang tangguh.

Ya, ya, sebuah pernyataan sikap yang sederhana, tetapi penuh makna. Setidaknya, ada 18 pendidikan budaya dan karakter bangsa yang perlu ditanamkan kepada peserta didik melalui bangku pendidikan, sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:
No. Nilai Deskripsi
1 Religius sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain).
2 Jujur perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Secara bertahap dan berkelanjutan, ke-18 nilai tersebut bisa ditanamkan kepada peserta didik melalui kegiatan Ekstrakurikuler, Bimbingan Konseling, Pembiasaan (Terprogram, Rutin, Spontan, dan keteladanan), integrasi dalam mata pelajaran, dan Muatan Lokal (Mulok).

Semoga upaya mulia untuk membangun generasi masa depan yang berkarakter dan berkepribadian kuat benar-benar bisa terwujud. Tetap semangat dan salam peduli anak bangsa! ***

Bima Suci: Guru yang Ternistakan

Suasana negeri Hastina mendadak gerah. Angin kemarau yang meluncur dari Gunung Argakelasa seperti memancarkan aura panas yang membadai dan mengancam. Pepohonan kering dan meranggas. Bumi Hastina seperti dihantam badai panas dan kekeringan yang panjang dan dahsyat. Istana Hastina yang biasanya sejuk dan nyaman pun tak sanggup membendung badai panas yang terus meluncur dari lereng sebuah gunung di perbatasan itu. Presiden Duryudana yang tengah sibuk memimpin sidang Kabinet Hastina berkali-kali mengelap jidatnya yang panas dan basah. Entah, sudah berapa helai selampai yang masuk ke keranjang sampah.

DuryudanaSengkuniAswatama“Pak Wapres, kemarau tahun ini rasanya kok beda dengan biasanya. Saya yakin ini pasti ada yang tidak beres!” sergah sang Presiden di tengah kecamuk suasana ruang kerjanya yang gerah.

“Walah, walah, bisa jadi benar, Bapak. Mungkin ada pihak yang dengan sengaja hendak mencelakai kita!” jawab Sengkuni, sang Wapres dengan mulut setengah menganga sembari cengengesan.

“Tapi maaf, Bapak Presiden. Menurut hasil penelitian dari staf kami, tingginya panas di Hastina ini akibat ulah para pengemplang hutan yang dengan sewenang-wenang mengeksploitasi hutan seenaknya, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan,” sahut Aswatama, Menteri Lingkungan Hidup, dengan wajah tertunduk.

“He, apa maksud Pak Menteri? ”

“Mmm ….. begini, Pak. Berdasarkan hasil penelitian para staf di kementerian, eksploitasi hutan di Hastina sudah berada di ambang batas kehancuran. Jika tidak segera dihentikan, bencana demi bencana akan terus terjadi. Panas dan kekeringan tahun ini menjadi salah satu dampaknya. Demikian, informasi yang saya terima. Berikut ini laporan lengkapnya!” jawab Aswatama sambiol menyerahkan segepok laporan.

Mata Presiden Duryudana membelalak. Dalam laporan itu, tertulis jelas nama-nama perusahaan yang dinilai sudah melakukan pelanggaran. Padahal, mereka yang berada di balik perusahaan itu adalah sebuah konglomerasi kelas kakap yang selama ini telah memberikan banyak kemudahan dan fasilitas kepada dirinya dan keluarganya. Wajah sang Presiden yang gerah itu mendadak memerah. Rahangnya yang kokoh makin mengeras.

“Saya tidak percaya! Laporan ini jelas mengada-ada. Saya justru curiga, jangan-jangan Pak Aswatama hanya ingin buat sensasi murahan. Mereka yang saya beri wewenang untuk mengelola hutan di Hastina adalah sosok yang benar-benar terpercaya. Pak Wapres, bagaimana pendapat Sampeyan!” Para anggota kabinet serentak membelalakkan bola mata. Mereka seperti tengah menyaksikan sang Presiden yang sedang berada dalam amarah yang memuncak. Mereka serentak menundukkan kepala sambil mencuri pandang dengan sesama koleganya.

“Wah, apa yang Bapak sampaikan itu benar adanya. Pak Aswatama pasti sudah keliru dalam menyampaikan laporan. Pantas saja, Pak Aswatama ini kan putra kesayangan Bapak Guru Durna yang bermuka dua. Lahirnya berpihak kepada Kurawa, tetapi hatinya sesungguhnya hanya untuk Pendawa!” sahut Sangkuni dengan sorot mata yang licik.

“Stop! Pak Wapres jangan bawa-bawa ayah saya dalam persoalan ini. Apa yang saya laporkan benar-benar berdasarkan falta yang sudah bertahun-tahun lamanya dikumpulkan dan diverifikasi!” sergah Aswatama dengan tatapan mata tajam ke wajah Sengkuni.

“Cukup! Apa pun isi laporan itu, saya tidak percaya! Sekarang bubar!” bentak sang Presiden.

Baru saja para menteri beranjak dari tempat duduk, mendadak seorang tentara dengan sikap tegap dan sempurna menghadap kepada Presiden Duryudana.

“Lapor! Di luar sana, para penduduk berbondong-bondong menuju lereng Gunung Argakelasa! Laporan selesai!”

Bola mata Duryudana kembali liar dan membelalak. Penguasa Hastina itu segera mengerlingkan bola matanya dan mengajak sang Wapres menuju ruang pribadinya. Tak tahu pasti, apa yang sedang mereka perbincangkan. Yang pasti, keesokan harinya, terjadi kegemparan di lereng Gunung Argakelasa.
***

Konon di salah satu lereng Gunung Argakelasa, berdiri sebuah sekolah darurat sebagai sekolah alternatif untuk memberikan bekal keilmuan kepada para generasi muda Hastina yang selama ini gagal tercerahkan ketika menuntut ilmu di bangku pendidikan formal. Institusi pendidikan tersebut didirikan oleh Bima Suci, seseorang yang mengaku telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup dari Sang Hyang Wenang. Visi pendidikan yang diluncurkan adalah melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, bermoral, bermartabat, berbudaya, religius, demokratis, dan berwawasan kebangsaan. Itulah pesan yang harus dijalankan oleh sang Bima Suci sebagai bagian dari darma dan laku hidupnya. Karena visinya yang dinilai tampil beda dan menjanjikan sebuah perubahan, banyak murid Hastina yang selama ini duduk di bangku pendidikan formal, berbondong-bondong pindah ke sekolah darurat. Bahkan, banyak penduduk dari negeri lain yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tak pernah mengenal ujian nasional itu. Setiap murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan potensinya. Guru hanya sekadar jadi fasilitator dan mediator yang ramah kepada siswa didik.

Situasi pendidikan alternatif yang dianggap “memberontak” seperti itu jelas membuat penguasa Hastina gerah. Sudah jadi rahasia umum bahwa pendidikan formal di negeri Hastina tak lebih dari sebuah lembaga yang sengaja didesain untuk melahirkan “generasi kacung” yang harus selalu tunduk pada kemauan dan selera sang penguasa. Para murid di-indoktrinasi untuk menjadi generasi anak mami, bukan generasi yang cerdas dan kritis. Tugas pelajar adalah menjadi penghafal kelas wahid, untuk selanjutnya diuji secara massal dalam sebuah ujian nasional yang sarat dengan kecurangan dan manipulasi. Ironisnya, ujian yang salah urus seperti itu menjadi salah satu kebanggaan kemajuan Hastina melalui parameter kenaikan bobot kelulusan dari tahun ke tahun. Akibat atmosfer pendidikan yang amburadul seperti itu, masa depan generasi muda Hastina makin tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Hanya penguasa yang boleh pintar dan cerdik mengatur orang. Tak heran jika dari tahun ke tahun, keluaran pendidikan formal negeri Hastina hanya bisa menjadi kacung di negeri orang dengan nasib tak menentu. Merek sering disakiti dan dinistakan. Hastina tak ingin mengubah nasib para kacung itu, sebab takut kehilangan pundi-pundi devisa yang selama ini terus mengucur ke dalam kantong sang penguasa.
Karena tak ingin menjadi kerikil bagi penguasa Hastina dalam mengindoktrinasi dan “mencuci otak” generasi masa depan Hastina, maka dengan segenap kekuatan dan daya ikhtiar, Sengkuni segera memerintahkan tentara Hastina untuk menutup dengan paksa sekolah yang didirikan oleh Bima Suci itu. Terjadi perlawanan sengit. Ribuan murid yang mengatasnamakan dirinya “Laskar Lereng Argakelasa” menghadang tentara Hastina di bawah komando Sengkuni yang bersenjata lengkap. Para murid serentak membentuk barikade untuk mengamankan dan menyelamatkan sang Bima Suci, guru yang amat mereka cintai dan idolakan, dari kekerasan tentara Hastina. Namun, perlawanan “Laskar Lereng Argakelasa” sia-sia. Mereka gagal menghentikan amarah para tentara yang demikian buas dan liar memberondongkan timah panas ke barisan para laskar. Beberapa di antara mereka telah terkapar mencium tanah. Mereka pun tak sanggup berbuat apa-apa ketika para tentara Hastina menggelandang dan menyeret sang Bima dalam keadaan tangan terborgol.

Namun, nasib sang Bima terselamatkan oleh kehadiran pasukan Pendawa yang dipimpin sang veteran Semar yang sudah lama sekali tidak menampakkan batang hidungnya ke tengah publik. Dengan sisa-sisa kepiawaiannya dalam berdiplomasi, Semar menyatakan bahwa sesungguhnya sang Bima Suci adalah Bima, putra Pendawa, yang tengah menjalankan misi dan darma pengabdian hidup sesuai dengan amanah Sang Hyang Wenang dalam sebuah pengembaraan yang amat dramatis di tengah samudra. Namun, rupanya Sengkuni tetap bersikukuh untuk mengadili sang Bima Suci yang dianggap telah melakukan tindakan subversif dengan mencekoki doktrin-doktrin membahayakan kepada generasi muda Hastina.

Suasana percek-cokan antara Semar dan Sengkuni membuat pengawasan para prajurit Hastina terhadap Bima mengendur. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Bima berteriak garang hingga borgol yang membelenggunya terlepas. Lantas, dengan amarah yang memuncak, Bima mengamuk membabi buta. Para prajurit Hastina terkesiap. Mereka tak menduga kalau Bima bakal melakukan serangan balik yang begitu telak. Dengan pentungan di tangan, putra penengah Pendawa itu terus berteriak dan memutar pentungan laksana kitiran hingga membuat Sengkuni dan prajuritnya kalang kabut. *** (Tancep kayon)

Keresahan Deddy Mizwar Menatap Wajah Indonesia

ama Deddy Mizwar (Deddy) sudah bukan lagi sosok yang asing. Wajah dan gaya bertuturnya yang khas (hampir) setiap detik muncul di layar gelas melalui iklan produk tertentu yang dibintanginya. Dalam dunia sinematografi, Bang Deddy juga dikenal sebagai sosok yang kokoh dan konsisten dalam memperjuangkan idealismenya; berjuang melalui film untuk ikut berkiprah membangun peradaban yang lebih sensitif terhadap nilai-nilai humaniora. Tak heran kalau dia cukup disegani banyak orang. Empat piala Citra (film) dan dua piala Vidya (sinetron) makin membuktikan siapa sesungguhnya sineas kelahiran asli Betawi ini.

Tak heran pula ketika MGMP Bahasa Indonesia SMP bekerja sama dengan Mitra Edukatifa Semarang menggelar seminar nasional, kehadiran Bang Deddy amat ditunggu-tunggu para peserta. Alhamdulillah, akhirnya Bang Deddy benar-benar hadir di tengah peserta seminar yang sebagian besar berasal dari kalangan pendidik ini. Sekitar 120-an peserta yang mengikuti seminar di GOR SBR Purin Kendal pada Selasa, 30 November 2010, bagaikan menemukan kerinduannya terhadap sosok yang sudah amat familiar secara imajiner itu.

Seminar nasional yang digelar memang dimaksudkan untuk melihat dinamika dunia pendidikan dari sisi yang lain. Fungsi kultural sebuah sekolah bukanlah semata-mata mencekoki peserta didik dengan setumpuk ilmu pengetahuan yang menyampah di balik tempurung kepala, melainkan yang lebih utama, bagaimana membekali peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup di tengah peradaban yang kian rumit dan kompleks.

Gambaran fungsi kultural dan spiritual tergambar jelas dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI yang diputar sekitar dua jam (pukul 13.45-15.45 WIB) sebelum seminar dimulai. Film yang secara satire membidik kehidupan kaum marginal ini berhasil memukau para peserta. Sekawanan pencopet yang tak terurus oleh negara, sehingga kian larut dalam naluri agresivitas dan anomali sosial, merupakan potret realitas sosial yang tak terbantahkan. Amanat UUD 1945 bahwa anak-anak miskin dan telantar dipelihara oleh negara, barulah slogan kosong; sekadar melengkapi klausul sebuah UU. Selebihnya, kota-kota besar negeri ini (nyaris) bisa dipastikan menjadi “syurga” bagi kaum marginal dalam menuntaskan naluri kemiskinan dan kekerasannya.

Pemutaran film ALNI membuat animo peserta untuk bisa segera berdialog dengan Bang Deddy kian terpantik. Bersama Zairin Zain (sang produser) dengan dipandu Aslam Kussatyo (guru dan teaterawan), Bang Deddy benar-benar membuat seminar memiliki “roh”. Sesekali terdengar suara tawa pecah di sudut-sudut gedung yang biasa digunakan sebagai basis latihan badminton ketika Bang Deddy melontarkan joke-joke segar. Bukan Bang Deddy kalau tak bicara ceplas-ceplos dan kritis. Film, tegasnya, merupakan “sihir” yang mampu melakukan perubahan mind-set orang dalam memandang hidup dan kehidupan. Namun, anehnya kini gedung-gedung bioskup kian sulit ditemukan. Hampir setiap ruang publik sudah dijejali dengan slogan-slogan kaum kapitalis yang mewujud dalam bentuk mall, pasar swalayan, atau kemegahan-kemegahan lain yang bisa memanjakan kaum pemilik modal. Kondisi seperti itu diperparah dengan menjamurnya sinetron “picisan” yang suka menjual mimpi, tangis, dan air mata. Sinetron tak lagi membumi, tetapi kian mengapung dalam dunia imajiner yang melambungkan mimpi-mimpi penonton. Imbasnya, bangsa kita makin kehilangan sikap sensitif, toleran terhadap sesama, dan gampang sekali terperangkap dalam bayangan-bayangan semu yang tidak mengakar ke bumi.

Dalam film ALNI, Bang Deddy seperti memancarkan keresahan ketika menatap wajah Indonesia yang karut-marut. Anak-anak yatim, miskin, dan telantar seringkali tak terurus. Sementara, perilaku-perilaku korup dan sarat anomali kian membadai. Pada sisi yang lain, dunia pendidikan yang seharusnya mampu menjalankan kiprahnya sebagai agen peradaban seringkali tak berdaya akibat sentuhan kebijakan yang kurang mengakar pada nilai-nilai kepekaan, kearifan, dan keluhuran budi.

Meski demikian, Bang Deddy tak patah arang. Kecintaannya pada dunia seni peran dan sinematografi agaknya telah mengalahkan kemanjaannya bergelimang hidup di tengah kemewahan. Untuk membuat film bermutu yang mampu “menyihir” publik, berdasarkan pengakuannya, dia rela tekor. Secara finansial, dia tak banyak mendapatkan keuntungan. Namun, dari sisi kultural dan spiritual, Bang Deddy mengaku mendapatkan sesuatu yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, langkahnya tak akan pernah surut untuk membuat film-film bermutu, berkelas, dan mencerahkan di tengah tingkat apresiasi publik terhadap film yang dinilai masih amat rendah.

Sayangnya, kerinduan peserta terhadap sosok sineas itu harus berakhir. Malam harinya, mulai pukul 19.00, dia bersama Zairin Zain mesti mengisi acara yang sama di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Maka, seminar pun terpaksa diakhiri pada pukul 17.15 WIB. Baiklah, Bang Deddy, kami tunggu karya-karya kreatifmu berikutnya. Meski secara langsung tidak sanggup melakukan sebuah perubahan, film tak akan pernah kehilangan perannya sebagai produk budaya yang layak diabadikan sebagai kekayaan kultural bangsa. ***

Antara Ronggeng Dukuh Paruk dan Tayub Grobogan

Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) merupakan salah satu novel trilogi karya Ahmad Tohari, selain Jentera Bianglala dan Lintang Kemukus Dini Hari. Banyak pengamat bilang, RDP merupakan satu di antara sekian novel Indonesia mutakhir yang sangat kuat warna lokalnya. Ia menampilkan sisi-sisi kearifan lokal masyarakat desa yang masih sangat kental persentuhannya dengan alam. Gaya naratif Kang Tohari, demikian novelis yang tetap betah dan nyaman tinggal di kampung kelahirannya, desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah itu biasa disapa, agaknya sangat tepat mendeskripsikan keakraban masyarakat dukuh Paruk terhadap berbagai fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya. Sangat beralasan apabila novel yang “eksotis” ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

RDPRDP tak bisa dilepaskan dari peran seorang Srintil yang dinilai mampu menggeliatkan semangat dukuh Paruk yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja. Pamornya makin cemerlang setelah ia dinobatkan menjadi seorang ronggeng. Konon, tanpa Srintil, dukuh Paruk akan merasa kehilangan jatidiri. Srintil mendadak menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua penduduk dari berbagai lapisan usia merasa memiliki ronggeng itu.

Namun, malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh Paruk hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh para penguasa di penjara itu. Akan tetapi, pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Oleh karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Rasus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun.

Salah satu bagian yang menarik dalam RDP adalah deskripsi tentang prosesi “sakral” penahbisan Srintil sebagai ronggeng. Konon, untuk menjadi seorang ronggeng, Srintil harus melewati proses penobatan yang terkesan sakral dan mistis. Selain harus melakukan pemandian di pekuburan Ki Secamenggala, sesepuh yang dianggap sebagai “cikal bakal” dukuh Paruk, dia harus menjalani upacara bukak klambu; sebuah ritual sayembara “penyerahan” keperawanan kepada seorang lelaki. Berikut ini kutipannya.

Aku mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng. Ternyata aku salah. Orang-orang Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran.

Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu.

“Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung!” pikirku.

Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Tetapi mendengar keperawanannya disayembarakan, hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak-klambu yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.

Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan keperawanannya. Untuk itu Kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelambu. Dalam tempat tidur ini kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang memenangkan sayembara.

Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat persiapan pelaksanaan malam bukak-klambu itu. Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang.

Ya, ya, sebuah ritual yang unik. Konon, ritual semacam itu dulu benar-benar sebuah peristiwa riil. Namun, lantaran dianggap kurang manusiawi, upacara penahbisan ronggeng melalui prosesi semacam itu akhirnya dilarang. Tiba-tiba saja, saya ingat seni pertunjukan rakyat yang ada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yakni tayub yang melibatkan ledhek sebagai “pemeran utama”, yang hingga kini masih eksis. Tayub Grobogan bisa dengan mudah disaksikan ketika ada warga yang punya hajat, entah itu khitan, nikah, selapanan bayi, atau hajat nazar yang lain.

Berbeda dengan ronggeng banyumasan sebagaimana yang tergambar dalam RDP, ledhek di Grobogan diterjuni oleh para pelakunya tanpa harus melalui ritual khusus yang bersifat mistis. Seperti layaknya profesi hiburan yang lain, ledhek diterjuni secara wajar-wajar saja oleh para pelakunya. Asal ada niat dan sanggup, meluncurlah mereka ke tengah-tengah masyarakat sebagai ledhek.

ledhekLedhek, konon merupakan jarwa-dhosok dari “Elek ben angger gelem medhek-medhek” (biar jelek asal mau mendekat). Seperti kebanyakan ledhek di daerah Kabupaten Grobogan, modal kecantikan agaknya tak begitu penting, meski juga berpengaruh dalam hal pemasaran. Modalnya cukup dengan dandanan yang seronok dengan vokal yang lancar selama semalam suntuk ditambah dengan keberanian mendekati kaum lelaki.

ledhekSebagai seni pertunjukan rakyat yang bercorak agraris, konon, dulu seni tayub hanyalah sebuah tontonan perlengkapan seremoni nazar bagi warga desa yang kebetulan punya uni alias nazar. Masyarakat Grobogan meyakini adanya mitos, jika pernah punya nazar, tetapi tidak segera dilaksanakan setelah niatnya tercapai, maka yang bersangkutan akan dirundung malapetaka. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit parah, bahkan sampai meninggal dunia atau dapat pula berubah musibah fatal yang lain. Sebagai medium pengabulan nazar, diundanglah ledhek untuk menolak musibah yang bakal datang. Selain itu, juga sebagai pengucapan rasa syukur kepada Hyang Widhi atas niat dan maksudnya yang telah terkabul. Lama pertunjukan cukup singkat sekitar 1-2 jam. Konon, mantra-mantra yang diucapkan sang ledhek itulah yang sanggup meredam segala musibah.

Dengan iringan gamelan yang mengalun, sang ledhek mulai mengucapkan matra dalam bentuk tembang. Ada suasana sakral di sana. Di tengah asap dupa yang membubung dengan segenap uba rapenya semacam ayam panggang, keris, onggokan pisang, ketupat, dan beras putih, sang ledhek tak henti-hentinya mengucapkan mantra sambil menyebar beras putih ke segala penjuru sebagai tulak balak: “…ana sengkala saka kulon tinulak bali mangulon. Sing nulak balak Raja Iman Slamet …” (ada musibah dari barat ditolak kembali ke barat. Yang menolak Raja Iman Selamat) ….” Byur! Beras putih disebar ke arah barat. Demikian seterusnya higga tujuh kali sesuai dengan arah yang disebutkan. Setelah sang ledhek selesai mengucapkan mantra dalam bentuk tembang, tamatlah pertunjukan sebagai pertanda bahwa nazar telah dilaksanakan. Mereka yakin, musibah tak mungkin muncul sekaligus sang empunya nazar terhindari dari segala petaka.

Namun, seirama dengan perkembangan seni hiburan di daerah pelosok pedesaan, seni tayub kini berubah fungsi, suasana, dan temponya. Dari fungsinya sebagai perlengkapan seremonial nazar, kini beralih fungsi sebagai hiburan semata. Suasana sakral pun sirna, berganti suasana ingar-bingar di tengah musik gamelan yang membubung ditingkah ketipak kendang yang keras membentak. Tempo pertunjukannya pun berlangsung semalam suntuk alias byar klekar seperti hiburan lain pada umumnya.

Seni pertunjukan rakyat berbau hiburan agaknya akan terus berkembang sesuai dengan dinamika masyarakatnya agar tetap bisa eksis di tengah gempuran budaya global. Meski secara ritual, antara RDP dan Tayub Grobogan mengalami prosesi yang berbeda, tetapi secara kultural, seni pertunjukan rakyat ini memiliki fungsi yang (nyaris) sama, yakni sebagai klangenan (hiburan) masyarakat agraris di tengah-tengah rutinitas keseharian. Mungkin ada benarnya kalau ada orang yang bilang bahwa pada dasarnya setiap masyarakat memiliki naluri untuk menemukan katharsis dan pencerahan jiwa melalui seni pertunjukan yang dianggap mampu memenuhi hasrat emosi dan spiritualnya. Begitukah? ***

Jumat, 25 Maret 2011

Selintas. Selembar daun gugur.

Cerpen Ali Syamsudin Arsi

Selintas. Selembar daun gugur.

“Telah berpuluh lembar memeluk humus di kesuburan, tanah ini menerima. Penerimaan yang tulus dan sabar,” Lelaki Atas Dirinya berniat mempersunting Gadis Pelangi yang duduk termangu, antara desah di bulu-bulu halus permukaan daun. “Akh, kau, pasti ada yang berdegup dalam detak jantungmu dan seperti biasa bagian bawah bibirmu akan bergerak kecil untuk mengatakan sesuatu yang tertahan.”

“Mohon dipastikan, sebelum kiamat itu datang, bukan hanya sekedar prasangka-prasangka dalam kitab-kitab saja, “Gadis Pelangi mengubah sedikit posisi duduknya, antara lipatan-lipatan kecil ujung baju berjuntai, lanjutnya pula sambil memainkan kelembutan jemari manis, telunjuk, kelingking dan jari tengah di atas punggung telapak kekasihnya. Ada yang mengalir di antara desau itu, angin yang lewat sempat menengok kemesraan mereka. “Seperti bukan persoalan kita, tetapi ramalan demi ramalan, silih berganti datang.”

“Tenang sajalah kita, belum ada yang mengejar, bahkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain pun masih jauh dari pikiran kita.” Lelaki Atas Dirinya mencoba menahan laju pembicaraan.

“Tapi bukankah kita telah berlapis tahun melewati perjalanan ini bersama-sama, sampai saat ini, entah sampai daun yang mana lagi gugur dalam penglihatan kita.” Telapak tangan Gadis Pelangi terbuka tengadah kini berada di bawah telapak lelakinya, ada tekanan halus dan mengalir lembut, seakan getar-getar itu memberikan isyarat bahwa suasana yang mereka ciptakan merupakan tepat waktu dan tepat sasaran. Pelan lembut halus melintas.

Angin di luar tenda café sedikit nakal mempermainkan liuk-liuk pucuk dedaun. Ada banyak yang masih mampu bertahan karena akar kokohnya tak mudah tergoda oleh hempas-hempas kecil seperti sore itu.

Pagi-pagi sekali dedaun yang berserak telah dengan sigap dikumpulkan dan dikirim oleh sepasukan ibu-ibu berseragam. Pagi-pagi sekali, selintas bergerak embun pun lenyap. Waktu merangkak dalam hitungan detak ke detak yang saling berkejaran. Kejar-mengejar dalam keteraturan.

Meja-meja lain telah terpenuhi oleh tamu-tamu yang perlahan ikut menikmati suasana. Café menjelang senja tiba. Ada yang saling menyapa walau jarak memisahkan antara mereka, tetapi tidak sedikit yang memang mengosongkan kursi-kursi di lingkarannya dan lambat laun terisi dengan sangat sempurna. Mula-mula hanya duduk sendiri, kemudian datang berdua, tak lama berselang satu pengunjung hadir pula, menjadi genap empat dan saling bertatap mata. Di sudut lain sebuah meja penuh sesak sejak semula, riuh gaduh canda ria, bahkan gelombang tawa yang digelegarkan sampai jauh bergema. Suasana tetap saja terjaga. Musik perlahan mengalun, ternyata menjadi perekat dan jebak-jebak sajian agar menjadi lebih betah berlama-lama. Lagu-lagu dengan irama slowly. Lampu-lampu temaram di jalan mulai menyala. Di bawah tenda café, penerangan pun sigap membaca gejala agar gelap jangan sampai lebih dahulu menyergap. Lelaki Atas Dirinya, Gadis Pelangi, Tamu-Tamu café, beberapa orang hilir mudik membawa pesanan. Di bagian lain orang-orang cekatan mempersiapkan sajian, dengan sekat rendah maka terlihat jelas kesibukan yang dipertontonkan.

Malam sebentar lagi memeluk taman. Tak tampak lagi daun yang gugur. Semburat jingga di langit perlahan menyusup menuju lenyap. Lampu-lampu menyala sempurna, ditata dalam ruang rapi dan apik. Cahaya dari sorot lampu kendaraan berselang-seling, melibas memotong di jalan-jalan sekeliling taman.

“Baiklah. Aku akan melamarmu dalam hitungan lima hari ke depan,” ucapnya tegas.

“Sungguh. Tentu ini bukan lelucon?” balas yang diajak bicara.

“Kita akan atur bersama, bagaimana sebaiknya.”

“Sangat membahagiakan.”

Antara kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, jempol dan seluruh bagian telapak tangan, semua menjadi satu bagian yang bermain dalam remas-remas gelora. Darah sudah tidak lagi terpisah-pisah dalam mengalirkan arusnya. Semua menjadi satu, tulang daging kulit dan perasaan. Lelaki Atas Dirinya, Gadis Pelangi adalah sepasang mahluk tuhan yang tidak begitu peduli lagi dengan pikirannya, masing-masing membenamkan perasaan mereka dalam gumpal-gumpal detak jantung yang berpacu. Cahaya mata mereka bertemu satu pandang dalam garis lurus yang seimbang. Garis yang beraturan.

Tuntutan yang saling berkejaran. Tanpa memahami bahwa detik demi detik sama dengan tarikan napas yang seharusnya dilesapkan, seharusnya diresapkan, seharusnya diselamatkan, seharusnya dileburkan, ke dalam rongga, ke dalam sepenuh ruang bernama dada, ke dalam ruang-ruang sekecil apa pun ia, pun juga pada ruang yang bernama gelembung-gelembung teramat kecil dari hasil serapan makanan yang dicerna, kemudian mengalir di pembuluh ke seluruh tubuh. Kejar-mengejar, tak mengenal lelah, tak mengenal lelap barang sekejap. Sebab, bila terlena maka akan fatal akibatnya.

Gerimis hadir perlahan. Dan biasanya hujan akan memperpanjang percakapan, walau dalam gigil kecil yang dipaksakan untuk bertahan. Satu persatu orang-orang dari dalam café beranjak pergi. Air Mancur di tengah taman itu tak lagi mengeluarkan bunyi ritmis yang memercik.

Pasca hujan. Humus merata di atas permukaan. Tanah hitam warna gembur, tanah tengadah menjanjikan. Janjikan kemakmuran di tengah perubahan cuaca yang di bulan-bulan terakhir ini terlalu sulit diperkirakan.

Sebuah kota yang memperlakukan warganya dengan kemanjaan suasana. Warga pun memanfaatkannya dengan suka cita. Ternyata suasana itu tidaklah gratis semua didapatkan, semakin eksklusif maka semakin jauh perbedaan jarak-nilai untuk mendapatkannya. Suasana yang gratis tetap tersedia, tentu di ruang-ruang publik,biasanya ruang-ruang itu terbuka.

Rasa bahagia tampak jelas terbaca di raut wajahnya. Gadis Pelangi, semakin erat dan mesra meremas jari-jemari, kekasihnya yang telah dengan terbuka mengutarakan hasrat yang dinanti-nanti. Sebuah kepastian dari perjalanan mereka.

“Engkau terlihat menangis,” seru Lelaki Atas Dirinya.

Punggung telunjuk kirinya menempel di bagian bawah kelopak mata Gadis Pelangi. Sedikit sembab dari lekuk turunan air mata yang turun perlahan.

“Ya, aku sedang berbahagia,” suaranya terbata menahan sendu.

Ingin dinikmatinya perasaan hangat yang dialirkan dari pertemuan kulit itu, dari sentuhan mesra dan penuh perhatian itu, dari romantis itu. Menikmati pernyataan yang telah didengarnya malam ini di sebuah café pada sebuah kota ketika menikmati suasana. Sejak sore hari, terlintas kembali di bayang-bayang mata selembar daun yang gugur, daun-daun itu saling mengejar satu dengan yang lain, mengejar kejatuhan mereka. Tidak pula pupus dalam ingatannya ketika angin berhembus memainkan daun-daun pohon seakan memperlihatkan betapa indahnya liuk-liuk itu sebagai tarian dari gairahnya, gairah kekasihnya. Angin pun saling kejar-mengejar, mengejar kekosongan, mengejar kehampaan. Masih mesra di belai jemarinya, kelingking mengejar jari manis mengejar jari tengah mengejar telunjuk mengejar ibu jari mereka, saling mengejar seperti darah yang mengalir, mengejar lenyap, mengejar lesap. Gerimis yang mengejar menuju hujan, dan hujan menutup kesempatan untuk beranjak, tetapi waktu itu adalah bagian terpenting yang pernah ia dengar dari banyaknya suara dan ucapan-ucapan. “Aku akan segera menjadi mempelai.”

Tentu saja tidak akan berhenti pada satu titik karena semua pemberhentian adalah jeda di sepanjang jarak perjalanan.

Posko Budaya Mingguraya, 24 Desember 2010

Rabu, 02 Maret 2011

TROJAN ATTACK!

What is a Trojan virus?

A virus that looks like a harmless and useful program but actually contains a code that can destroy data or install adware or spyware on your computer. Trojan viruses can be embedded in email attachments, programs that have been downloaded, or even through operating system vulnerabilities on your computer.

A recent tactic that hackers are using is to put the virus in pictures. Never download anything you do not recognize. Unlike the regular computer viruses Trojans do not replicate.

What does a Trojan virus do to your computer?

Trojan viruses can do much damage to your computer or worse, hackers can read the files and personal information from your computer and steal your identity. They can also add unwanted spyware and ad ware, deliver unsolicited pop-ups and advertising, all without your consent.

So how can get rid of them?

Most if not all antivirus programs will detect and remove Trojans, viruses and other unwanted programs from your computer automatically. For e-mail attachments, you may have to scan them individually. There are programs you can download that will do it automatically. There is plenty of anti-virus software free and paid out there that can look at. Payment programs usually have more features that can be used as a registry cleaner.

Whatever your choice may be, make sure you have installed the latest version, periodically perform system analysis, and updated with the latest version to keep your computer protected.

One of the most evil and insidious things ever invented was the Trojan virus. What person with dementia thought of this is beyond comprehension. Trojan virus infiltrates your entire computer system and affects its ability to quickly browse the Internet and in the worst cases can cause the entire system to crash, permanently delete data stored on your hard drive.

There are some steps you can take to the removal of Trojan viruses, to save all your data and installed software. If you take your computer to a repair shop or the Geek Squad you want to delete the entire hard drive after saving valuable documents. After going to reinstall the operating system software and make your computer virus free.

The problem with this method is that it is expensive, time consuming, and you can never recover the installed applications. Unless you have the original application software installation discs and registration number to go with it, you have to buy new programs. That can reach hundreds and even thousands of dollars if you have a lot of expensive programs installed as Photoshop, Dreamweaver, InDesign, ProSeries, and many others.

You can also simply download a virus cleaner and run it. That will solve more problems and run the Trojan virus removal desired. If your computer crashes or can not connect to the Internet, which happens a lot with Trojan virus infections.